Jumat, 06 Januari 2012

MERAIH SUKSES BELAJAR
Bersama surat Al-“Alaq ayat 1-5

Islam adalah agama yang sangat peduli akan kemajuan para pemeluknya  dengan menganjurkan selalu berfikir ke depan dan mengambil pelajaran( ‘Ibroh) setiap  peristiwa  yang terjadi dalam kehidupan ini bahkan Isalm  mengkatagorikan orang yang cerdas adalah orang yang bisa belajar dimana pun ia berada dan kapan pun selama kaki masih bisa menginjak bumi  tanpa harus mengenal  faktor usia, ekonomi atau status sosial sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an,  fa’tabiruu yaa ulil abshar(QS Al-Hasyr:2)atau diungkapkan ’IBRATALLI ULIL ALBAAB (QS  Yusuf:111 )yang  artinya kemajuan atau pretasi bisa dimiliki oleh siapapun, karena konteks ayat tersebut bersifat umum, apalagi jika orang tersebut adalah seorang  muslim yang memang lebih dijamin kemajuannya oleh Allah.  Allah SWT menurunkan surat yang pertama kali adalah Al-Alaq ayat 1-5.Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari surat ini untuk kita jadikan panduan dalam menggapai kesuksesan, diantara panduan tersebut adalah:
1.       Berdasarkan turunnya  surat Al-Alaq ayat 1- 5 mengingatkan kepada kita bahwa kesempatan belajar tidak hanya diberikan untuk orang-orang yang memiliki  kemampuan baca dan tulis atau orang-orang yang sukses secara akademisi bahkan  Nabi Shallahu’alahiWassalam adalah Ummi ( tidak bisa baca dan tulis)akan tetapi bisa sukses  dan kesuksesannya diakui oleh semua kalangan dunia, hal ini membuktikan bahwa belajar bisa melaui nalar(hafalan ), pengalaman  atau bahkan penelitian dan seterusnya.
2.        Jadikan rutinitas membaca itu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Subhanahu Wat’alaa, yang  memacu kita untuk memiliki visi dan misi yang besar  untuk meraih kesuksesan tidak hanya terbatas pada kesuksesan duniawi tapi juga kesuksesan ukhrowi, Islam membolehkan kita  untuk memiliki mimpi besar bukan hayalan belaka, ada pepatah mengatakan: Kun Himmatuka fits tsuroyya wala takun Himmatuka fil ardhi s sulfa(Gantungkanlah cita-citamu diatas bintang kejora dan janganlah kau kau jadikan cita-citamu di dasar bumi paling bawah). Di sisi lain surat ini diawali dengak kata Iqra’ (bacalah) bukan Utlu( baca dan fahamilah) yang maksudnya Allah memberikan standar tugas dan pekerjaan terendah untuk masalah pemberian pahala kepada hamba-hambanya bahwa dengan membaca saja  sudah  merupakan bagian dari ibadah yang dibalas  oleh Allah SWT, bagaimana jika standarnya pemahaman? Tentu sangat sulit bagi kita menjalaninya, tidak sukses di dunia begitupula di akhirat, wal’iyadzubillah.Begitu juga  dalam ayat pertama ini Allah menggandeng perintah baca dengan kata” menyebut nama Tuhanmu” yang maksudnya segala sesuatu harus diniatkan Ibadah apalagi dalam urusan belajar.
3.       Ayat ini berlaku kepada semua manusia  dan lebih khusus kaum muslimin agar senantiasa rajin membaca , menela’ah dan meneliti( kritis)  terhadap segala sesuatu  baik yang sudah diketahui atau pun belum diketahui, oleh karena itu konteks ayat ini diawali dalam bentuk amr ( perintah aktif) secara berulang-ulang yang  maksudnya adalah bahwa dalam urusan belajar untuk lebih aktif dan proaktif. Hal ini senada dengan hadist Rasulullah Sallalahu ‘alaihi wasallam:” menuntu ilmu itu wajib bagi setiap muslim” bahkan dalam redaksi lain Rasulullah sallalahu’alaihi wsallam bersabda: Tuntutlah ilmu dari buwayan hingga liang lahad” . konsep hadis  ini ternyata sudah dipraktekan oleh beberapa keluarga muslim salah satunya keluaraga  Muhammad Husein Tababa’I yang hafal dan faham Al-Quran dalam usia tujuh tahun dan mendapat gelar Doctor cilik di London  yang di tulis dalam sebuah buku dan bukunya pun menjadi best seller, dari kisahnya ternyata selama hamil ibunya selalu membaca dan belajar Al-Quran  yang akhirnya Allah mudahkan  bagi anaknya menjadi penghafal  dan faham Al-Quran. Orang-orang barat pun tidak mau ketinggalan  khususnya yahudi mereka mengutip konsep ini dengan  mensetting   anak-anaknya yang masih dalam kandungan  untuk menjadi ahli dalam bidang tertentu, matematika misalnya dengan membiasakan ibu dan bapaknya mengerjakan soal matematik selama bayi mereka masih dalam kandungan dan terbukti bahwa mereka lebih maju ketimbang kaum muslim yang mengalami krisis belajar yang drastis.
4.       Ayat ini mengingatkan kepada kaum muslim untuk memiliki ta’alluq qawiyy billah( keterkaitan yang kuat kepada Allah) dalam meraih sebuah kesuksesan , karena berapa banyak diantara kita meyakini  sebuah kesuksesan ternyata gagal, atau sebaliknya ada diantara kita yang merasa akan  gagal tapi tidak jadi gagal karena kepasrahan yang tinggi (tawakkal ) setelah berusaha secara maksimal. Belajarlah dari para salafusholeh bagaimana mereka menempatkan konsep ini dalam kehidupan sehari-hari  dengan menyerahkan kesuksesan hanyalah hak preogatif Allah Subhanahu wat’alaa  sementara manusia hanyalah sebatas usaha dan ikhtiyar,namun demikian Allah tidak akan pernah berbuat zalim kepada siapa pun makhluknya di muka bumi ini dengan memberikan kesuksesan sesuai dengan usaha dan ikhtiar masing-masing. Dalam buku  ‘Alamul Muhadditsin yang dikarang oleh Muhammad Abu Syuhbah mengatakan bahwa Imam Bukhori  pernah bangun dua puluh kali dalam satu malam setiap kali ide itu muncul dan terlintas dalam pikirannya, ia nyalahkan lampu terlebih dahulu, sholat dua rakaat lalu ia tuangkan idenya dalam sebuah buku lalu ia matikan lagi dan tidur  kembali, ia lakukan  hal ini secara berulang-ulang. Bagaimana dengan kita? Bahkan beliau pernah berkata: Tidaklah aku menulis suatu hadis kecuali jika perawinya mengatakan iman itu meliputi perkatan dan perbuatan”.berarti tidaklah ia meriwayatkan satu hadis kecuali ia  tahu betul bahwa  perawi hadis tersebut sudah mengamalkan hadist yang diriwayatkannya.
5.        Ayat ini menggugah manusia melalu proses berfikir dengan menyadari adanya keterbatasan manusia dalam menggapai ilmu Allah dan jangan sekali-kali merasa paling hebat apalagi sombong karena sesungguhnya konsep dasar  seorang yang berilmu, semakin tinggi ilmunya semakin ia takut kepada Tuhannya( QS AFathir :28) ibarat padi semakin tinggi pohonnya samakin ia merunduk sebagai tanda ketawadhuannya.Belajarlah dari sikap Rasulullah ketika berhasil menaklukan kota Mekkah (Fathu mekkah)  dengan gemilang tanpa melaui proses peperangan,ia memasuki kota Mekkah di atas kudanya dengan menundukan kepalanya bahkan diceritakan hampir- hampir janggutnya menyentuh pelana kudanya karena merasa kesuksesan yang ia raih hanyalah semata-mata pertolongan Allah SWT, Oleh karena itu ayat ini juga menggugah kita dengan  cara meneliti jati diri  manusia itu sendiri dimana Allah menggambarkan  proses  penciptaan manusia  dengan menggunakan kata “alaq  bukan nutfah, sementara secara prosedur harusnya melalui proes nutfah baru ‘Alaq, Hal in membuktikan kelemahan manusia dalam proses tersebut  dimana manusia hanya bisa mengamati proses penciptaan perkembangan tanpa bisa mengendalikannya, secara ilmiah alaq ini terjadi  pada hari ketujuh  yang baru terbentuk dua lapisan yang sangat melekat ( Hipoblas dan Epiblas). Hipoblas difungsikan untuk mendapat suplai  makanan melalui tali pusat  sedangkan epiblas merupakan cikal bakal terbentuknya organ-organ tubuh manusia.
6.       Ayat ini pula mengingatkan kepada kita bahwa manusia berasal dari sesuatu yang hina, akan tetapi kehinaan itu tidak akan berlansung  lama jika hidupnya dibekali dengan iman dan ilmu sebagaimana Allah berfirman dalam  surat al-mujadilah yang artinya: Allah mengangkat derajat orang yang ebriman dinatara kamu dan orang-orang yang ber ilmu dengan beberapa derajat
( QS Al-Mujadilah :11). Oleh karena itu  pada surat ini khsusnya pada ayat keempat Allah mengunakan salah satu  sifatnya dengan ungkapan  Akram yang artinya Maha  Mulia, Maha dermawan maksudnya adalah bahwa orang-orang yang memepelajari  Ilmu Allah maka secara otomatis Allah pun akan memudahkan pemahaman  ilmuNya dan  memuliakan derajat  orang-orang  yang memepelajari ilmuNYa, sebagaimana dalam sebuah doa yang selalu kita ucapkan bahkan anak-anak kita disekolah” Robbi Zidni ‘Ilma Warzuqni Fahma” Ya Allah tambahkanlah ilmuku dan berilah aku rirzki pemahaman”.
7.       Salah satu cara untuk memperkuat ilmu adalah dengan menulisnya,sebagaimana diungkapkan dalam  ayat kelima dengan ungkapan Al-Qolam yang merupakan salah satu alat tulis bahkan ada satu surat yang di namakan al-Qalam yang menandakan bahwa tulis menulis merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran oleh karena itu Rasulullah Sallalahu ‘alaihi wassalam meskipun Ummi tidak lantas kehabisan ide dalam mencatat wahyu-wahyu  yang allah turunkan kepadanya dengan ia memerintahkan beberapa sahabat untuk menjadi juru tulisnya seperti Zaid bin harist, Ali bin abi Thalib, Mus’ab bin Umair dan sahabat lainnya.Hal ini senada dengan  sebuah pepatah: Ilmu pengetahuan adalah laksana binatang buruan dan penulisnya adalah tali pengikat buruan olehkarena itu ikatlah buruanmu dengan tali yang teguh.

KEUTAMAAN ORANG YANG BERILMU
                Imam Abdul Barr menyebutkan keistimewaan orang yang menuntut ilmu dalam bukunya” Jami’ Bayanil “ilmi Wa fadhlih” sebagai berikut:
1.       Pasif income yang  tidak pernah terputus sebagaimana dalam sebuah hadis  Rasulullah Saw  bersabda: Jika anak Adam meninggal maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal: shodakoh jariyyah, atau ilmu yang bermanfaat,atau anak sholeh yang  mendoakan orang tua.( HR Imam Muslim )
2.       Derajatnya akan dinaikan dengan bebarap tingkatan seabagaimana diungkapkan  dalam ( QS Al-MUjadalah: 11 )dengan ungkapan  nakirah dan jama’  “ darjaat” yang artinya derajat  yang  Allah berikan dengan jumlah yang tidak terbatas apalagi jika ilmu tersebut disertai keimanan baik didunia maupun akhirat.
3.       Seluruh penduduk langit dan bumi selalu mendoakan orang yang belajar tanpa ia sadari, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah dan malaikatnya,penduduk langit dan bumi hingga semut yang ada di lubangnya,dan ikan-ikan yang ada di lautan selalu mendoakan orang-orang yang belajar/mengajar suatu ilmu kebaikan.  Dalam  redaksi yang lain Rasulullah bersabda: Sesungguhnya para malaikat merentangkan sayapnya untuk mengayomi para penuntut imu karena senang dengan apa yang dilakukan hamba tersebut.(HR Ad-Dinawary  )
4.       Bisnis yang selalu menguntungkan, kalau ada sebuah bisnis dengan system MLM (multi level marketing)maka ilmu  merupakan bagian dari bisnis tersebut yang keuntungannya bisa dinikmati secara berantai dengan merugikan pihak mana pun.Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang mengajarkan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikit pun.(HR Imam Muslim )
5.       Sesuatu yang boleh dijadikan sebagai  ajang persaingan ( iri /Ghibthoh )Rasulullah SAW bersabda: Tidak boleh dengki kecuali dua hal : orang yang diangurahi harta lalu ia keluarkan  seluruh hartanya untuk kebenaran, orang yang berilmu ia amalkan ilmunya lau ia ajarkan kepada orang lain.(HR  Bikhori Muslim)
6.       Kualitas ibadah orang yang berilmu lebih baik daripada orang yang ibadah tanpa ilmu.Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya  keutamaan orang yang berilmu diatas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama diatas bintang-bintang, sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi  yang mana para nabi tidak mewariskan harta tapi mewariskan ilmu kepada para umatnya.




KESIMPULAN
Olehkarena itu marilah kita tajdidun niyyah (perbaharui niat ) kembali bahwa sesungguhnya kegagalan kita atau bahkan anak kita dalam belajar dikarenakan belum mengikuti panduan metode belajar yang di sebutkan dalam QS al-‘Alaq ayat 1-5, atau pun untuk saudara-saudara kita yang sudah berhasil secara akademisi  untuk segera menyadari bahwa kesuksesannya adalah tidak lebih dari peranan dan kehendak Allah SWT agar kesuksesan tersebut bisa bertahan lama dalam kehidupan kita. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Hj. Ayanih Ismail,MA

  







Rabu, 04 Januari 2012

Adaabut Ta’aamul Fil Jama’aah
(Adab Berinteraksi Dalam Jamaah)

“Sesungguhnya jika engkau tidak bersama mereka, maka engkau tidak akan bersama orang-orang selain mereka. Sementara jika mereka tidak bersamamu, mereka tetap eksis bersama yang lain.”
Kata-kata salafus shaleh di atas menyadarkan kita tentang kebutuhan kita akan jamaah dan untuk senantiasa berada dalam ruang lingkupnya, karena bila kita tidak lagi bersama mereka, tidak mungkin kita bergaul dengan orang-orang yang standarnya di bawah mereka. Sementara jamaah dan mereka yang ada di dalamnya akan terus eksis dan berjalan dengan atau tanpa kita. Gamblangnya, masuk dan keluarnya kita dari jamaah tidak akan berpengaruh banyak apalagi sampai mengguncangkan jamaah. Dengan kata lain bila kita keluar dari jamaah, kitalah yang merugi. Sementara bagi jamaah boleh dibilang hampir tidak ada kerugian, karena begitu banyak yang siap menggantikan kita.
Karena itu keberadaan kita di dalam jamaah adalah anugerah Allah yang harus disyukuri dan dipelihara. Salah satu upaya menjaga karunia kesertaan kita dalam jamaah adalah dengan senantiasa berinteraksi secara intensif dengan dakwah itu sendiri dan semua elemen-elemen dakwah atau elemen jamaah.
Yang terpenting tentu saja adalah dengan dakwah atau jamaah itu sendiri, kemudian dengan mas’ul atau naqib. Berikutnya dengan sesama ikhwah atau a’dha jamaah. Lalu dengan para muayyid dan akhirnya dengan sang murabbi yang menghantarkan kita ke dalam jamaah.

A. Ma’ad Dakwah (Interaksi dengan dakwah)

1. At-takhally ‘an shillati bi ayyi haiatin aw jamaa’atin. Melepaskan diri dari segala keterikatan dengan lembaga-lembaga atau jamaah- jamaah lainnya (terutama apabila diminta oleh jamaah untuk melakukan itu). Salah satu arkanul ba’iah dalam jamaah kita adalah tajarrud yang penjabarannya adalah kita memberikan loyalitas, keterikatan dan ketaatan kita secara total kepada jamaah. Kalaupun kita memiliki kritik-kritik yang konstruktif terhadap jamaah bukan karena kita tidak tsiqah atau bahkan melirik jamaah lain. Sehingga bila jamaah menilai kita harus memutuskan ikatan dengan yayasan atau jamaah tertentu, karena dinilai membahayakan, seyogianyalah kita menerima dan menaati. Kecuali bila jamaah menugaskan di lembaga atau jamaah tertentu untuk tujuan tertentu (On mission).
2. Ihyaa’ul aadaatil Islamiyah (Menghidupkan kebiasaan-kebiasan Islam). Tujuannya adalah agar kita tetap terpelihara di dalam ruang lingkup jamaah dengan hidayah yang diberikan Allah. Di antara usaha untuk terus meningkatkan kualitas keislaman dan keimanan adalah dengan selalu menghidupkan kebiasaan-kebiasaan Islami seperti menyebarkan salam, membaca doa-doa harian, mendahulukan anggota tubuh yang kanan dan lain-lain. Karena hanya dengan berupaya meningkatkan kualitas diri sajalah kita akan tetap terjaga, kebersamaannya dengan jamaah, dengan homogenitas kebaikan yang dimilikinya.
3. Ta’arruf alal ikhwati dua’ti ma’rifat taamati wayaal’aksa. Berkenalan dengan para du’at dengan pengenalan yang sempurna dan sebaliknya mereka juga mengenal kita dengan sempurna. Selain untuk menunaikan hak-hak dan kewajiban ukhuwah, perkenalan yang intensif dan sempurna dengan para duat akan membuat kita dapat saling berkaca dan memacu diri. Apalagi dengan para ikhwah yang lebih dulu memasuki jamaah dibanding kita. Bukankah Rasulullah saw. bersabda, “Al-mu’minu mir’ah li akhihi” (mu’min cermin bagi saudaranya).
4. Adaaul waajibaatil maaliyyah (zakat, infak dsb) Menunaikan kewajiban-kewajiban maaliyah seperti zakat, infaq, ta’awun dll). Tak pelak lagi masalah ekonomi, maisyah atau maaliyah adalah hal yang penting yang harus diperhatikan oleh a’dha jamaah. Untuk menunaikan kewajiban maaliyah di dalam Islam dan jamaah seperti zakat, ta’awun, infaq dan lainnya tentu saja harus diwujudkan dulu karateristik qaadirun alal kasbi di dalam diri a’dha tersebut.
5. Nasyrud dakwah fi kulli makaan wa ahli alaa dzaalik. Menyebarkan dakwah di setiap tempat dan membentuk keluarga-keluarga dakwah. Pembentukan pribadi muslim di dalam jamaah dimaksudkan tidak saja membuat seorang muslim menjadi saleh tetapi juga harus muslih. Jadi tidak hanya sekadar mengupayakan nilai-nilai kebaikan melekat dalam dirinya, melainkan juga mengupayakan agar keluarga dan masyarakatnya pun terwarnai oleh nilai-nilai kebaikan tersebut. Bahkan harus pula menjadikan keluarga sebagai pendukung-pendukungnya yang utama dalam dakwah.
6. At-ta’arrufu alaal harakati Islamiyah. Mengenal harakah-harakah Islam. Keberadaan kita sebagai a’dha di dalam jamaah ini tentu saja harus membuat kita semakin mengenal jamaah kita, sejarah, visi dan misinya, tokoh-tokohnya dll., sebagai sebuah harakah Islam. Dan sebagai bahan pembanding kita juga perlu mengenal harakah-harakah Islam lainnya.

B. Ma’an Naqib

Naqib atau qiyadah dalam dakwah memiliki hak seorang bapak dalam ikatan hati, hak seorang ustadz dalam hal menambah dan mentransfer ilmu, hak seorang syekh dalam memberikan tarbiyah ruhiyah dan akhirnya hak seorang komandan dalam menentukan atau memberikan kebijakan-kebijakan umum di lapangan dakwah.
Dalam proses interaksi dengan naqibnya, seorang adha atau al akh dituntut supaya bisa berhubungan dengan baik sebagai perwujudan keqiyadahan yang terdekat dengannya. Di antaranya ialah memperhatikan hak-hak naqib seperti tersebut di atas. Selain itu juga berusaha memenuhi hal-hal sebagai berikut:
1. Tha’at. Seorang a’dha hendaknya senantiasa taat melaksanakan perintah-perintah dan arahan-arahannya dalam kondisi senang atau susah serta sulit dan mudah.
2. Tsiqah. Seorang akh dikatakan tsiqah kepada naqibnya jika ia memiliki ketenangan dan ketenteraman jiwa terhadap apa-apa yang datang dari sang naqib Ia tidak pernah ragu- ragu terhadap arahan yang datang darinya.
3. Iltizam. Seorang adho harus berupaya menjaga, melanggengkan iltizam atau komitmennya kepada naqib dan jamaah dengan jalan keterbukaan menginformasikan kondisi diri secara obyektif, sehingga terjaga pula hubungan ruhiyah dan amaliyah dalam ruang lingkup berjamaah.
4. Memiliki sikap ihtiram (menghormati) naqib. Bukanlah suatu ciri feodalisme jika kita menghormati atasan kita yang layak dihormati. Apalagi ia berfungsi sekaligus sebagai orang tua, guru, syekh dan qaid. Bukankah Islam mengajarkan kita menghormati orang yang lebih tua dari kita dan banyak memberikan kebaikan untuk kita seperti orang tua, guru, syekh dan komandan.
5. Memberi nasihat, masukan, saran dan kritik secara halus dan sembunyi-sembunyi alias tidak di depan orang lain. Memang tak bisa dipungkiri, naqib adalah juga manusia biasa yang punya kekurangan dan kelemahan, namun bila kita ingin mengkritisi atau memberi masukan hendaknya dengan memperhatikan adab agar martabat atau izzahnya sebagai naqib tidak terlecehkan di hadapan orang lain.

C. Ma’al ikhwah

Terhadap sesama ikhwah atau a’dha jamaah kita pun dituntut untuk memiliki adab yang benar dalam berinteraksi. Beberapa hal di bawah ini penting diwujudkan dalam interaksi dengan sesama ikhwah agar suasana ukhuwah benar-benar tercipta di dalam jamaah kita.
1. Selalu husnuz zhan (bersangka baik) dan bahkan berusaha mencarikan alasan untuk membelanya jika ada orang lain yang menghujat ikhwah kita.
2. Memperlihatkan mahabbah atau rasa cinta pada mereka dan berusaha menahan emosi atau memaklumi kebodohan-kebodohan mereka.
3. Mendoakan mereka ketika kita berpisah atau sedang tidak bersama mereka. Dalam hadis disebutkan doa seorang muslim untuk saudaranya ketika berpisah atau sedang tidak bersamanya mustajab. Di sisi kepalanya ada malaikat yang setiap kali ia berdoa untuk saudaranya meminta kebaikan berkata malaikat: Amin dan bagimu hal yang seperti itu pula..
4. Tanashur, tolong-menolong sesama ikhwah sebagai realisasi ukhuwah. “Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim atau dizhalimi,” yakni engkau menghalanginya dari berbuat kezhaliman atau membebaskannya dari keteraniayaan.
5. Mengakui dan menghargai bantuan mereka di waktu lapang dan sempit, serta merasakan dan menyadari bahwa kekuatannya, tidak dapat bergerak dengan sendirinya tanpa andil dan bantuan ikhwah lainnya seperti problem yang dialami dalam masalah maisyah, penyimpangan atau terkena fitnah.
6. Tidak menyukai atau tidak rela jika saudaranya berada dalam bahaya dan bersegera berbuat untuk mencegah atau menolak dan menyelamatkan saudaranya tersebut dari bahaya.
7. Memberikan tadhiyah (pengorbanan) terhadap sesama ikhwah. Hasan Basri, ”Tidak ada yang kekal dalam kehidupan ini, kecuali tiga hal; Pertama saudaramu yang kau dapati berkelakuan baik. Kedua apabila engkau menyimpang dari jalan kebenaran ia meluruskanmu dan mencegahmu dari keburukan. Tidak ada seorang pun selainnya yang mengontrolmu. Ketiga shalat berjamaah menghindarkanmu dari melupakannya dan meraih ganjarannya.”

D. Ma’al Mu’ayidin (Bersama Muayid)

Seorang a’dha jamaah adalah seorang murabbi bagi para muayidinnya. Ia menjadi pintu gerbang yang akan menghantarkan muayidnya ke dalam jamaah. Agar bisa menjadi daya tarik dalam merekrut dan menghantarkan muayidnya ke dalam jamaah, ia dituntut agar bisa berinteraksi dengan baik dan tepat dengan mua’yidnya di antaranya ialah:
1. Menghargai dan menempatkan diri muayid secara seimbang atau proporsional. Mereka bukan segala-galanya atau yang paling hebat dan penting sehingga seolah olah tidak akan ada yang dapat menggantikan mereka. Tetapi tidak pula meremehkannya, merendahkannya atau menempatkannya secara tidak proporsional di tempat yang tidak bernilai atau rendah dan tidak sesuai dengan mereka. Sehingga terkesan tidak menghargai potensi dan bakat mereka.
2. Mendahulukan hal yang paling penting di atas hal yang paling penting atau menggunakan skala prioritas. Dan yang pertama harus dilakukan adalah menumbuhkan akidah di hatinya.
3. Berhemat dalam menasihati muayyid sehingga bisa masuk dan meresap.
4. Meninggalkan cara-cara yang keras atau kasar walau dengan hujah yang benar.
5. Menghindari jawaban langsung atau to the point dan sanggahan yang ketus atau mematahkan.
6. Menghindari penghancuran potensi dalam meng’ilaj atau mengatasi permasalahan ringan atau dengan jalan membebani dengan beban berat yang tidak proporsional dan tidak mendidik.
7. Hati-hati terhadap pemborosan tenaga. Hendaknya kita memperhatikan tingkat kecerdasan dan ilmu muayyid kita sehingga tidak perlu berpanjang-panjang dalam membahas hal yang sudah jelas.
8. Setiap perkataan memiliki tempatnya masing-masing dan setiap tempat memiliki jenis perkataan yang cocok. Rasulullah saw. bersabda: “Berbicaralah pada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka.”
9. Mempelajari kondisi mereka dan mengenali permasalahan –permasalahan mereka misalnya ia sebagai murabbi tidak langsung mencerca bila mad’u terlambat datang karena boleh jadi ada uzur syar’i yang tidak bisa diatasinya. Kemudian tidak mendikte dalam pekerjaannya dan tidak membebaninya dengan beban yang tidak sanggup ditanggungnya, karena pepatah mengatakan bahwa Madinah tidak dibangun dalam waktu satu hari.
10. Jadilah teladan baginya dalam segala situasi.
11. Kontinyu mendakwahinya sampai tampak hasilnya.

E. Ma’al Murabbi

Seorang akh atau a’dha bisa masuk ke dalam jamaah adalah karena jasa murabbinya. Hal itu tidak akan pernah terhilangkan dari catatan malaikat Raqib, sehingga seyogianyalah tidak terhapus dari benak a’dha tersebut.
1. Menghormati mereka karena bagaimanapun Allah telah menjadikan mereka sebagai sebab tergabungnya kita menjadi a’dha jamaah ini. Dengan kata lain merekalah yang telah menghantarkan kita masuk ke dalam jamaah ini, walaupun kini kita telah menyamai atau bahkan mungkin melebihi atau melampaui mereka dalam hal wazhifah tanzhimiyah misalnya.
2. Sesungguhnya mereka tetap gurumu dan bukan mantan guru atau sekadar orang yang pernah menjadi gurumu.
3. Terus mengingat-ingat kebaikan mereka dan melupakan kelemahan-kelemahan mereka jika memang ada.
Jika kesemua interaksi dengan keseluruhan elemen jamaah itu terjalin dengan baik, insya Allah akan terpeliharalah kekokohan iltizam kita dengan jamaah itu sendiri. Wallahu a’lam

Selasa, 03 Januari 2012

Adab Majelis

Dalam aktivitas dakwah dan harakah dibutuhkan banyak liqa’at/pertemuan majelis-majelis. Demikian pula ketika mihwar dakwah kita sudah bergerak ke mihwar muasasi, kita tetap memerlukan diadakannya majelis-majelis pertemuan. Dan terutama memasuki era kepartaian inilah, penting bagi kita mengingat Adab Majelis dalam ajaran Islam agar kita tidak terjerumus ke dalam majelis yang tidak di berkati Allah.

Adab Majelis dalam Buku Adab Halaqah karangan Dr. Abdullah Qadiri dijabarkan sebagai berikut :

1.      Hendaknya orang-orang yang berada dalam majelis berusaha serius. Meminimalisir senda gurau yang berlebihan dan melampaui batas. Hal ini tidak dimaksudkan membuat suasana liqo dalam majelis menjadi kering, kaku, dan hambar. Suasana dalam majelis diharapkan tetap diwarnai kehangatan, kasih sayang dan keceriaan tanpa harus terjerumus ke dalam gurauan-gurauan yang berlebihan.

2.      Menjauhkan diri dari ta’assub yang telah menyebabkan orang-orang taqlid buta terjerumus ke dalamnya. Karena tidak ada manusia yang sempurna atau ma’shum (bebas dari dosa) selain Rasulullah SAW maka hendaknya kebenaran sajalah yang patut diikuti. Dan bila ada perbedaan pendapat atau pandangan hendaklah dikembalikan kepada dalil Allah dan Rasul-Nya yakni Al-Qur’an dan As-sunnah.

3.      Membersihkan majelis dari kebusukan ghibah (pergunjingan) dan namimah (menambah-nambahi) atau mencela seseorang dan jama’ah tertentu. Alangkah baiknya bila orang-orang yang berada di dalam majelis berusaha menjauhkan diri dari menodai orang lain dan sebaiknya malah melakukan introspeksi muhasabah, merenungi kelemahan diri sendiri.

4.      Pembahasan kasus-kasus yang negatif yang dapat menghambat jalannya dakwah dilakukan dalam rangka mengishlah/mengoreksi, memperbaiki dan bukan dalam rangka mempermalukan atau menjatuhkan seseorang.

5.      Menghargai dan tidak menyia-nyiakan waktu. Di dalam majelis hendaknya senantiasa ditentukan daftar skala prioritas dalam pengajuan masalah dan agenda acara yang akan dibicarakan. Kemudian obrolan-obrolan yang iseng yang tidak berfaedah dan menghabiskan waktu hendaknya dihindarkan.

Dalam QS. Al Ahzab:70  Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar”.

Dan Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam”.(HR Bukhari - Muslim)

Kemudian bila ada yang mencerca kita, hendaknya kita tidak terdorong untuk membalasnya. Sebab cercaan-cercaan tersebut justru mengungkapkan kebaikan kita.

Secara lebih rinci dan praktis, Adab dalam Majelis juga dapat diuraikan sebagai berikut:

1.      Memberi salam tatkala masuk atau meninggalkan majelis. Rasulullah SAW menyuruh kita untuk senantiasa berwajah ceria dan menyebarkan salam. Pepatah mengatakan datang tampak muka, pergi tampak punggung. Jadi tidak menyelinap datang dan pergi tanpa salam.

2.      Mengambil tempat yang masih kosong. Hendaknya tidak memaksakan diri ke depan atau berdesak-desakan. Sebaliknya, carilah tempat yang masih kosong.

3.      Tidak melangkahi bahu tamu lain untuk mengambil tempat di depan yang masih kosong dan kita justru diminta untuk mengisi tempat di depan.

4.      Berkenalan dan bercengkrama dalam majelis sebelum acara di mulai. Dalam Islam, adab mujamalah (tegur sapa dalam rangka kesantunan) sangat dianjurkan. Bila acara belum dimulai, hal itu dapat dilakukan untuk mempererat silaturahmi dan ukhuwwah.

5.      Duduk di antara dua orang harus meminta izin terlebih dulu. Bila ada dua teman kita yang sedang duduk berdekatan, hendaknya kita tidak langsung duduk di tengah-tengahnya tanpa seizin mereka berdua.

6.      Hindarkan bergurau berlebihan. Keceriaan, kehangatan dan canda tawa memang perlu dihadirkan dalam majelis namun bukan berarti harus melampaui batas.

7.      Diam dan mendengar serta menyimak lawan bicara yang sedang berbicara. Memang jauh lebih sulit untuk menjadi pendengar yang baik ketimbang pembicara yang baik. Tetapi hendaknya kita berusaha diam dan sungguh-sungguh memperhatikan lawan bicara kita.

8.      Mematuhi arahan pembawa acara. Agar majelis berjalan tertib sesuai dengan agenda acara, maka setiap peserta hendaknya mematuhi arahan pembawa acara.

9.      Berusaha hadir ke majelis sesuai dengan syarat yang ditetapkan (waktu, pakaian, dan persiapan lainnya). Hadir tepat waktu dengan pakaian yang sesuai dan persiapan memadai sangat diperlukan bila kita memasuki sebuah majelis.

10.  Menjaga pandangan dari yang haram. Baik peserta laki-laki maupun perempuan hendaknya menjaga pandangan dan kesantunan.

11.  Hormati wanita yang melintasi hadirin laki-laki. Hendaknya dihindari perbauran dan saling menggoda terutama bila peserta wanita melintasi laki-laki.

12.  Memulai majelis dengan memuji Allah serta membacakan ayat-ayat-Nya dan ditutup dengan do’a kafarat majelis.



Di dalam sebuah majelis, tentu saja setiap peserta diharapkan aktif berbicara menuangkan ide, gagasan, pendapat atau mengkritisi dan memberikan pendapat pada gagasan yang dilontarkan oleh orang lain.

Namun agar pembicaraan dalam majelis berjalan dengan baik, lancar mencapai target dan tetap dalam kerangka ibadah yang diridhai dan diberkahi Allah, perlu kiranya diperhatikan bagaimana adab berbicara dalam Islam.



Adaabul Hadits (Adab Berbicara)



Berbicara adalah hal yang sangat manusiawi atau fitrah insaniyah. Sebagai ajaran yang syamil dan mutakamil (komprehensif dan utuh), Islam juga sangat memperhatikan dengan lisan sehingga memberikan arahan yang termaktub dalam adaabul hadits (adab berbicara).

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa lisan dapat membawa atau menyebabkan seseorang masuk surga atau neraka. Dan di hadits lainnya diingatkan bahwa setiap anak cucu Adam akan diminta pertanggung jawaban atas perkataan-perkataannya, baik yang sengaja maupun tidak.



Manfaat adab dalam berbicara


1.      Bisa menikmati kondisi diam sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan kepada umatnya, karena segala perkataan Rasul adalah bernilai dzikir dalam pengertian yang luas. Bila beliau berbicara, maka bicaranya dzikir dan bila beliau diam, diamnya adalah dalam rangka berfikir.

2.      Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau (lebih baik) diam”.

3.      Bila kita biasa mematuhi adab berbicara, maka kita akan memiliki kemampuan menasehati secara baik. Karena jika terlalu mengumbar lisan, perkataan dan nasehat kita membekas atau memberi kesan mendalam terhadap orang yang kita nasehati, hendaknya kita senantiasa menjaga shalat lail, shaum sunnah, tadarrus Al-Qur’an dan shalat sunnah rawatib.

4.      Terhindar dari menjadi ulama yang su’ (ulama yang buruk). Penampilan ulama su’ ini terkesan alim, islami namun ternyata di dalamnya busuk, sesat dan menyesatkan. dalam QS. Ash-Shaff ayat 2-3, Allah mengingatkan dan mengancam orang-orang yang tidak memiliki kesesuaian antara kata dan perbuatan

Agar bisa meraih manfaat tersebut, seorang Muslim harus mematuhi adab-adab berbicara, yakni :

1.      Wadih. Bila kita berbicara hendaknya kata-kata kita wadih alias jelas, tegas, lugas dan mudah dicerna atau difahami. Hadits dari Aisyah r.a: “Adalah kata-kata Rasulullah, kata-kata yang jelas dan mudah difahami oleh orang yang mendengar di sekitarnya”. Apalagi tujuan komunikasi yang utama adalah memberikan pengertian atau kefahaman kepada orang yang diajak berkomunikasi Rasulullah SAW selalu mencontohkan bagaimana berbicara dengan wadih, sampai-sampai sahabat-sahabat bisa menghitung kata-kata yang disampaikan beliau.

2.      Sederhana dan tidak difasih-fasihkan. Hendaknya seorang Muslim berbicara dengan bahasa yang sederhana, wajar tidak dilebih-lebihkan atau sok fasih. Seyogyanyalah kita melihat siapa orang yang kita ajak bicara apakah seorang yang terdidik atau bukan. Rasulullah SAW bersabda: “Berbicalah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitas mereka”.

3.      Menghindari pengulangan pembicaan yang bisa menimbulkan kejenuhan. Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud biasa memberikan taushiyah atau nasehat setiap hari kamis, sehingga sahabat yang lain pernah berkata padanya: “Hai Abu Abdurrahman, seandainya saja engkau bisa memberi nasehat setiap hari, niscaya kami akan senang”. Namun Ibnu Mas’ud malah menjawab, kami hanya memberikan nasehat sekali-sekali saja, karena Rasulullah juga hanya sekali-sekali saja memberi nasehat. Pada saat kami berada di dalam majelis.

4.      Kata-kata yang digunakan hendaknya hanya kata-kata yang baik dan bernilai ibadah: Hindarilah kata-kata yang bersifat laghwi (sia-sia / tidak bermanfaat). Dalam hadits disebutkan oleh Rasulullah SAW: “Min husnil Islamil ma’i tarku ma laa ya’ nihi”.(HR. Tirmidzi). Termasuk di dalam kebaikan keislaman seseorang, maka ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, termasuk kata-kata laghwi. Yang termasuk kategori kata-kata baik adalah salam, tegur sapa, nasehat, kata-kata yang memberi semangat, menghibur dan menghindari kata-kata laghwi (QS 23:3) sebagai ciri-ciri orang yang beriman.



Di dalam majelis selain ada yang berbicara tentu saja harus ada yang menjadi pendengar, karena itu selain adaabul hadits dibutuhkan pula adaabul istima’.

Dalam tubuh manusia boleh dibilang telingalah organ yang paling awal berfungsi dan kelak organ ini pula yang paling terakhir berhenti berfungsi.

Sahabat Nabi SAW, Abu Darda r.a pernah mengeluarkan kata-kata bijak: “Hendaknya kita belajar dari organ-organ tubuh yang diberikan Allah kepada kita. Mengapa Ia memberi kita dua telinga dan satu mulut, itu artinya kita harus lebih banyak mendengar ketimbang berbicara”.

Dan memang ternyata jauh lebih sulit menjadi pendengar yang baik daripada pembicara yang baik. Bahkan kadang-kadang kita menemui bahwa dalam satu majelis, ada orang-orang yang berbicara pada saat yang bersamaan dan tidak mau saling mendengar satu sama lain.

Karena itu penting bagi kita belajar mendengar. Ada saat-saat berbicara, tetapi ada juga saat-saat mendengar, sehingga penting bagi kita untuk mengetahui apa-apa saja yang termasuk adab mendengar dalam perspektif Islam:

1.      Diam dan mendengarkan dengan baik dan seksama, maksudnya kita harus tahu kapan saat berbicara dan kapan saat diam dan mendengarkan. Bila sedang terjadi pembicaraan hendaknya kita berlaku santun, mendengarkan dan menyimak dengan baik dan seksama. Hendaknya kita tidak mengobrol dengan sesama pendengar lainnya.

2.      Tidak boleh memotong pembicaraan. Bila memang penting bagi kita karena ada hal yang penting yang harus diinformasikan atau dikoreksi, hendaknya kita meminta izin dengan mengacungkan jari lebih dulu dan meminta maaf, bila tidak diizinkan hendaknya kita catat untuk kita tanyakan atau sampaikan setelah pembicara menyelesaikan uraiannya.

3.      Menerima dan menghargai pembicaraan orang lain serta tidak meninggalkannya di saat selama isinya dalam rangka ketaatan pada Allah SWT, walaupun ada yang membosankan.

4.      Tidak menepiskan pembicaraan orang lain walaupun kita sudah mengetahuinya selama tidak ada yang salah dalam kata-kata tsb. Atha’bin Rabah pernah diberitahu informasi oleh seseorang sementara hal itu sebenarnya sudah diketahui oleh Atha’ sejak sebelum orang itu lahir. Namun Atha’ tetap mendengarkan dengan penuh perhatian.

5.      Tidak menunjukkan pada hadirin bahwa kita yang paling atau lebih banyak tahu. Sehingga misalnya sering berceletuk, berkomentar yang mengganggu, kecuali bila memang ditanya atau dirasakan sangat perlu.

Sepuluh Wasiat Imam Hasan Al-Banna




Imam Syahid Hasan Al-Banna merupakan seorang ulama Islam yang memiliki pengaruh besar di Abad ini. Gerakan dakwah Al-Ikhwanul Muslimin yang dipimpin beliau terbukti memberikan kontribusi besar bagi kebangkitan Umat Islam dari tidur mereka yang panjang. Sebagai qiyadah jamaah dakwah, Imam Hasan Al-Banna telah menjadikan gerakan dakwahnya sebagai sebuah organisasi yang dinamis dan aktif dalam melakukan perubahan di tengah-tengah umat di seluruh dunia. Karena fikrah ikhwaniyah yang dilontarkan Imam Syahid mudah diterima dan menjadi pegangan bagi para mujahid di seluruh medan dakwah.

Dalam mengarahkan para ikhwah untuk lebih giat berdakwah, Imam Syahid sering memberikan wejangan yang amat praktis dan mudah diamalkan. Di antaranya adalah yang dikenal sebagai 10 wasiat Hasan Al-Banna. Wejangan Imam Syahid yang sepuluh ini bersifat sederhana dan mudah dihafal. Layaknya seperti kiat-kiat aktifitas rutin harian yang setiap saat harus dihayati dan dilaksanakan oleh setiap anggota Jamaah Ikhwanul Muslimun. 10 Wasiat Imam Syahid adalah sebagai berikut ;

1.      Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.

2.      Baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an, berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedahnya

3.      Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.

4.      Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.

5.      Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.

6.      Jangan suka bergurau, karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus menerus.

7.      Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.

8.      Jauhilah ghibah (menggunjing) atau menyakiti hati  orang lain dalam bentuk apa pun dan janganlah berbicara kecuali yang baik.

9.      Berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan taawun (kerjasama).

10.   Pekerjaan rumah (PR) kita sebenarnya lebih bertumpuk daripada waktu yang tersedia, maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan.



Bagi para aktivis dakwah sepuluh wasiat bagaikan resep yang sangat manjur untuk mengobati penyakit yang terdapat dalam hati mereka.  Hal ini telah teruji sepanjang perjalanan dakwah Ikhwan sejak dikumandangkan oleh Imam Syahid sampai ke masa kita sekarang ini.  Wasiat Imam Syahid merupakan rangkuman pemahaman beliau terhadap kandungan Al-Qur-an dan Sunnah yang semestinya mendapat prioritas utama dalam pengamalannya…. Berikut ini penjelasan lebih lanjut  dari perintah harian Imam Syahid Hasan Al-Banna.



Wasiat Pertama: Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.

Wasiat ini mengandung perintah agar setiap Al-akh mendahulukan sholat lima waktu dari perkara lainnya. Karena sholat di awal waktu merupakan amal Islam yang paling utama sebagaimana dikemukakan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam ketika ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah amal yang paling utama ya  Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya”. Wasiat ini juga mengharuskan jamaah ikhwan untuk selalu menanti waktu-waktu sholat. Akan lebih utama bila seorang akh itu selalu dalam keadaan berwudlu beberapa saat sebelum adzan berkumandang sehingga dia dengan segera dapat mendatangi masjid dan sholat berjamaah. Al-Akh tidak boleh memprioritaskan hal lain selain dari waktu sholat ini.



Wasiat Kedua: Baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedahnya.

Setiap akh diwajibkan untuk selalu berinteraksi dengan Kitabullah Al-Qur-an. Mereka wajib membacanya di mana ada kesempatan. Di setiap pertemuan yang diselenggarakan ikhwah hendaknya dimulai dengan membaca Al-Qur-an. Selain itu ikhwah juga diminta untuk menelaah atau mentadabburkan isi Kitabullah sesering mungkin. Ini bisa dilakukan dengan membaca Kitab-kitab tafsir atau buku-buku Manhaj Islam yang menguraikan nilai-nilai Al-Qur-an. Bukankah Nabi mengatakan bahwa sebaik-baik  ummat beliau adalah yang memperlajari dan mengajarkan Al-Qur-an. Imam Syahid juga mengingatkan agar waktu dimanfaatkan untuk berdzikir dalam segala keadaan. Surat-surat tertentu dan ayat-ayat pilihan biasa dapat dibaca dalam berbagai keadaan. Disamping itu ada bacaan-bacaan dzikir seperti tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan hauqallah yang sangat penting dilakukan dalam setiap keadaan ikhwah… Misalnya ketika berkendaraan, menunggu sesuatu, atau tengah diam… Ikhwah hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu bagi hal-hal yang tidak bermanfaat karena di antara ciri orang-orang mukmin adalah “Alladzina hum anillaghwi mu’ridhuun” (Orang-orang yang menghindarkan diri dari perkataan atau perbuatan yang tidak ada manfaatnya.



Wasiat Ketiga: Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih

Setiap akh diwajibkan belajar Bahasa Arab fushah (baku) dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Beliau mewajibkan hal ini karena Bahasa Arab merupakan salah satu syiar dakwah Islam. Bahasa Arab itu bahasa Al-Qur-an dan bahasa Ahlul Jannah (Ahli Syurga). Di antara sumber kekuatan ummat Islam adalah persatuan mereka yang bersifat mendunia. Kunci persatuan adalah kemampuan berkomunikasi cepat, dengan bahasa yang merupakan warisan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya. Sementara itu orang-orang di luar Islam  berusaha sekuat tenaga menjauhkan Ummat Islam dari bahasa induk mereka. Mereka mempopulerkan bahasa Inggris dan menyatakan bahwa bahasa Arab itu terbelakang. Mereka bahkan ingin ummat Islam tak lagi mampu membaca Al-Quranul Karim atau memahami kandungan maknanya ketika membaca Al-Qur-an tersebut.



Wasiat Keempat: Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.



Imam Syahid mengingatkan para ikhwah untuk menjauhi perdebatan dan berdiskusi tentang hal-hal yang tak perlu. Ikhwah dianjurkan banyak bicara tetapi tentang hal-hal yang penting atau mendesak untuk dibicarakan… Perdebatan selamanya hanya melukai orang yang didebat karena setiap orang selalu berusaha mempertahankan pendapatnya kendati salah. Al-Qur-an sendiri mengingatkan kita dari bicara serampangan karena syaitan itu memecah belah manusia dari perkataan yang buruk. (S. Al-Isra: 53)



Wasiat Kelima: Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.



Imam Syahid melarang para ikhwah banyak tertawa untuk memelihara dan menjaga kesucian hati mereka agar selalu berdzikir kepada Allah... Banyak tertawa bisa timbul karena ada yang membanyol, atau menceritakan sesuatu yang membuat orang-orang tertawa terbahak-bahak. Biasanya tidak jauh dari mengejek dan menghina orang lain baik secara langsung atau tidak. Karena itulah Al-Imam mengingatkan bahaya orang-orang yang banyak tertawa dan sedikit menangis.



Wasiat Keenam: Jangan suka bergurau, karena ummat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus menerus.



Imam Syahid Hasan Al-Banna juga melarang para ikhwah banyak bercanda atau membanyol yang membuat orang lain tertawa baik dengan ucapan, cerita, atau tingkah laku yang lucu. Beliau menyatakan bahwa sikap pejuang Islam adalah bersungguh-sungguh atau serius sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur-an S. Al-Ankabuut ayat 69



Wasiat Ketujuh: Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.

           

Imam Syahid Hasan Al-Banna mengingatkan para ikhwah agar memperhatikan adab berbicara di antaranya dengan merendahkan suara dari segi volume dan merendahkan hati dari segi isi pembicaraan. Islam memerintahkan ummatnya untuk memiliki kelembutan hati dan hal itu dimulai dari kelembutan dalam berbicara atau berdialog.



Wasiat Kedelapan: Jauhilah ghibah (menggunjing) atau menyakiti hati  orang lain dalam bentuk apa pun dan janganlah berbicara kecuali yang baik.



Dalam wasiat ini Imam Syahid mengingatkan agar para ikhwah tidak menggunjingkan orang lain. Bergunjing adalah membicarakan sesuatu tentang orang lain yang tidak disukai orang tersebut bila dia mendengar pernyataan itu. Bergunjing adalah larangan keras dalam berbicara. Oleh Al-Qur-an orang yang suka menggunjing disamakan dengan orang yang memakan daging saudaranya sendiri. ( S. Al-Hujaraat 12.)



Wasiat Kesembilan; Berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan taawun (kerjasama).



Imam Syahid menekankan bahwa prinsip dakwah Islam sejati adalah saling berkenalan. Pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Allah telah menciptakan manusia berjenis-jenis suku bangsa dan bahasanya, beraneka ragam latarbelakang hidupnya agar mereka saling kenal mengenal (Al Hujarat: 13). Untuk meraih hati orang lain pada langkah pertama adalah dengan memperkenalkan diri dan mengenal orang lain. Dengan perkenalan itu maka jembatan antara hati kita dengan hatinya sudah tersambung… Setelah itu potensi untuk saling tolong menolong dan bekerjasama akan terbuka.



Wasiat Kesepuluh : Pekerjaan rumah (PR) kita sebenarnya lebih bertumpuk daripada waktu yang tersedia, maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan.



Imam Syahid mengingatkan bahwa tugas para ikhwah yaitu agenda dakwah sangat banyak. Bahkan lebih banyak dari waktu yang tersedia. Umur dakwah ini lebih panjang dari umur para juru  dakwah itu sendiri. Mereka tidak boleh menunda-nunda pekerjaan yang sudah ada di depan mata, disebabkan pekerjaan lain akan segera menyusul… Karenanya ikhwah harus bekerja sama  untuk saling memudahkan pekerjaan mereka, sebagaimana sering dikemukakan Rasulullah saw., “Permudahlah dan jangan dipersulit”.  Dalam gerakan dakwah kita harus saling melayani dan membantu mempermudah urusan saudara kita sehingga pekerjaan dakwah akan menjadi ringan dan menyenangkan.

Wallahu a’lam


Jumat, 30 Desember 2011


URGENSI MUHASSABAH

 “ Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan catatan amal perbuatan itu, Padahal mereka telah lupakannya. dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. QS. Al-Mujadilah [58]:6.


Apa itu Muhasabah ?

Menurut bahasa, muhasabah berasal dari bentuk kata kerja; haasaba yuhaasibu di ambil dari haasiba, hasibtusy-syaia, ahsibuhu husbaanan, dan hisaaban, artinya apabila engkau menghitungnya; hisab dan muhasabah artinya bila engkau menghitung sesuatu.


Menurut bahasa arti muhasabah sama dengan intropeksi, yaitu hadirnya sebuah kesadaran untuk melihat keadaan diri. Istilah yang lain adalah menghitung-hitung keburukan aib diri sendiri, merenunginya, dan terus mencoba melakukan perubahan sikap dan prilaku kearah yang lebih baik.


Umar Ibn Khatthab ra :“Hisablah dirimu sebelum kamu di hisab dan timbanglah amalmu sebelum kamu di timbang, karena sesungguhnya kamu melakukan hisab terhadap dirimu sendiri pada hari ini (dunia), akan lebih memudahkan bagi kamu saat menjalani hisab hari esok (akhirat)”. 
 

Imam Hasan Basyri : “Tidak ada satu haripun dimana sang pajar masih terbit menyingsing kecuali ia berkata; “Wahai anak Adam (manusia), aku adalah makhluk baru dan atas semua amalanmu menjadi saksi. Maka jadikanlah aku sebagai bekal. Sebab jika aku berlalu, aku tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat”.


Imam Ja’far Bin Muhammad as-Shidiq :“Siapapun yang akhir dari dua hari yang di lewatinya buruk, maka ia adalah orang yang terkutuk. Siapapun yang tak melihat adanya pertambahan kebaikan dalam dirinya, maka ia adalah orang yang berkekurangan. Dan siapapun yang dirinya berkekurangan, maka kematian lebih baik dari pada kehidupan.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. AL Hasyr [59] : 18.


1.     Muhassabah ( introfeksi diri )

Sebagaimana pesan Sahabat Nabi Amirul Mukminin Umar bin Khottob :

" حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا "

" Evaluasilah (Hisablah) dirimu sebelum kalian dihisab dihadapan Allah kelak"

     2.     Muroqobah ( selalu merasa di awasi Allah )


”الإحسان هو أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك"

artinya :“Ihsan adalah engkau senantiasa beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, kalau pun engkau belum bisa melihat-Nya, ketahuilah sesungguhnya Allah melihat kepadamu”.

3.     Mu’ahadah ( selalu mengingat perjanjian dengan Allah )

Setiap saat, setiap shalat kita seringkali bersumpah kepada Allah : إيّاك نعبد و إيّاك نستعين

“Hanya kepada-Mu-lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolong.

Kemudian kita berjanji ;  إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

“Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Rabb semesta alam”.

172. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi"…. QS. Al ‘Araf [7] ; 172.
 
    4.     Mu’aqobah ( member sangsi ketika lalai beribadah )

Meng ‘iqob diri jika lalai dalam melakukan ibadah dengan infaq dan hal-hal yang mendidik.

      5.     Mujahadah ( adanya kesungguhan dalan ibadah ).


69. dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada

mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. QS. Al-Zalzalah [99]: 6-8.
 
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). QS. Al-Baqarah [2];281

Wallahu’alam bishowaf.