SHADAQAH "SEBUAH PINTU KEBERKAHAN"
Dalam khazanah terminology Islam,
ada beberapa sebutan yang berkaitan dengan pemberian. Yang banyak digunakan
oleh umat Islam diantaranya zakat, infaq dan shadaqah. Ada model lain dari
pemberian tersebut seperti wakaf, fidyah, hadiah, dan jizyah. Semua berkaitan
dengan sesuatu yang dikeluarkan/diberikan dari pemilik kepada penerima.
Masing-masing istilah tersebut biasanya memiliki kekhususan sendiri-sendiri.
Zakat digunakan bagi pemberian yang hukumnya wajib dengan kadar dan waktu
tertentu dan pemberi serta penerimanya juga tertentu, infaq digunakan pada
bentuk pemberian berupa materi tertentu baik jenis ataupun jumlahnya. Sedangkan
wakaf lebih umum digunakan untuk pemberian yang bersifat benda yang bisa
digunakan selamanya dan seterusnya. Dari sekian banyak istilah yang ada, maka
shadaqah adalah istilah yang paling universal dan fleksibel. Artinya bentuk
pemberian apapun baik berupa materi atau bukan, baik jenis tertentu atau jenis
lain, baik bersifat sementara atau kekal, dan siapa pun penerimanya semuanya
bisa menggunakan istilah shadaqah. Tentu saja semuanya harus dilakukan atas
dasar keimanan kepada Allah semata. Tidaklah dikatakan shadaqah pemberian dari
orang-orang yang tidak beriman atau dari golongan non-muslim. Sebesar apapun
yang mereka berikan, tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah swt.
Jadi, kalau kita memperhatikan
istilah-istilah tersebut maka shadaqah adalah amal yang bisa dilakukan oleh
siapa pun, kapan pun dalam bentuk apa pun. Allah menggunakan kata shadaqah
untuk zakat, Rasulullah saw menggunakan kata shadaqah untuk wakaf dan untuk
pemberian yang berupa non-materi dll. Namun dalam perjalanan makna bahasanya,
khususnya untuk orang Indonesia, shadaqah sering dipersempit artikan dengan
pemberian yang jumlahnya kecil atau bahkan sesuatu yang sudah tidak berharga.
Mengapa shadaqah memiliki makna
yang sedemikian luas ? Kalau kita perhatikan, shadaqah memiliki akar kata yang
sama dengan shiddiq yang artinya benar/jujur. Dengan demikian segala sesuatu
yang dilakukan dengan benar, atau bentuk pemberian apapun yang dilakukan dengan
benar/jujur maka bisa disebut dengan shadaqah. Kalau kaitannya dengan
materi/harta maka shadaqah adalah amal berupa shidqul-maal yaitu benar dalam
memperoleh dan membelanjakan harta. Dan hanya amal inilah yang bisa
menyelamatkannya dihadapan pengadilan Allah SWT ketika Allah menanyakan
darimana diperoleh harta itu dan kemana dibelanjakannya.
Hubungan Shodaqah dengan Keimanan
Ketika kita membaca sejarah Nabi
dan para sahabatnya, maka kita bisa melihat dengan jelas bagaimana hubungan
antara amal shadaqah dengan tingkat keimanan seseorang. Tidak ada satu pun
diantara para sahabat yang bisa menandingi kualitas shadaqah Abu Bakar r.a.
Keimanan Abu Bakar yang demikian tinggi, mampu mendorongnya untuk
men-shadaqah-kan semua hartanya yang ia miliki, dimana hal ini tidak bisa
dilakukan oleh Umar ra atau Utsman ra atau yang lainnya . Dalam hal ini
Rasulullah tidak memandang berapa besar shadaqah yang diberikan Abu Bakar.
Meskipun mungkin saja jumlah harta Abu Bakar masih lebih sedikit dibandingkan
jumlah sepertiga harta Utsman. Dalam hal ini, Rasulullah menyebutkan sebuah
alasan yang melatarbelakangi amal shaleh Abu Bakar tersebut yaitu bahwa
kalaulah iman seluruh para sahabat ditimbang dengan iman seorang Abu Bakar ra,
niscaya masih lebih berat imannya Abu Bakar.
Jadi, keimanan seorang muslim sangat menentukan kualitas
shadaqah yang dia lakukan. Bukan saja dalam masalah besaran dan jumlah
shadaqahnya, tetapi berupaya agar shadaqah yang dilakukannya tidak sia-sia.
Berkaitan dengan tingkatan manusia dalam bershadaqah, mari kita simak sebuah
hadits berikut :
Abu Kabsyah (Amru) bin Sa’ad
Al-Anmary r.a telah mendengar Rasulullah saw bersabda : Tiga orang saya
akan ceritakan kepadamu dan saya bersumpah kepadamu, ingatlah cerita ini.
- Tiada akan berkurang harta seseorang karena bershadaqah.
- Dan tiada seorang yang dianiaya maka ia tetap bersabar, melainkan ditambah kemuliaannya oleh Allah.
- Dan tiada seorang yang membuka pintu minta-minta melainkan Allah membukakan baginya pintu kemiskinan.
Kini saya akan
bercerita kepadamu maka ingatlah cerita ini : Sesungguhnya dunia ini hanya
untuk empat macam orang.
- Seorang yang diberi rizqi harta dan ilmu maka ia pergunakan untuk bertaqwa dan menghubungi sanak keluarga dan mengenal hak Allah di dalamnya (dibayarkan zakatnya dan dipergunakan untuk kebaikan), maka orang ini dalam tingkat yang tertinggi.
- Seorang yang diberi ilmu tetapi tidak berharta maka dengan niat yang sungguh-sungguh ia berkata : Kalau saya diberi harta pasti saya akan beramal sebagaimana si fulan, maka ia mendapat pahala niatnya dan pahala kedua orang itu tidak berbeda.
- Seorang hamba yang diberi kekayaan tetapi tidak bertaqwa dan tidak dipergunakan untuk menghubungi sanak keluarga juga tidak mengenal hak Allah di dalamnya, maka orang ini ada pada sejahat-jahat tempat.
- Seorang yang tiada diberi harta dan tiada berilmu, lalu ia berkata: Andaikan saya mempunyai harta niscaya saya akan berbuat sebagaimana kelakuan si fulan, maka ia berhasil dengan niatnya, nilai timbangan keduanya sama tidak berbeda.
(HR At-Tirmidzy) (Dari Kitab Riyadhusshalihin)
Shadaqah yang Barokah
Dari uraian diatas, bisa kita
katakan bahwa shadaqah adalah salah satu model pengamalan tertinggi dari keimanan
seseorang. Sehingga setiap mukmin niscaya berharap bahwa Allah SWT menerima
shadaqahnya tersebut. Tentu saja hal ini sangat bergantung dengan tujuan serta
adab-adab dalam shadaqah. Bisa jadi pemberian seseorang yang dia katakan
shadaqah tertolak di sisi Allah SWT. Maka hendaklah kita menjaga hal-hal
berikut setiap kita memberikan shadaqah dalam bentuk apapun :
1.
Selalu menjaga niat ikhlas.
Inilah syarat
utama keberkahan dalam shadaqah. Pada hakikatnya, seluruh harta yang ada pada
manusia adalah milik Allah SWT. Manusia hanya menerima titipan belaka. Maka
niat ikhlas dalam bershadaqah merupakan kesadaran dalam mengembalikan titipan
tersebut kepada pemiliknya. Allah berfirman :“…Dan
janganlah kamu membelanjakan (shadaqah) sesuatu melainkan karena mencari
keridhoan Allah SWT …” (QS Al-Baqarah (2) : 272).
2.
Bershadaqah dalam keadaan
lapang maupun sempit.
Dengan karakter
shadaqah yang fleksibel dan universal, maka seorang mukmin seharusnya mampu
bershadaqah dalam setiap keadaan. Ketika diberi kelapangan harta, maka
perbanyaklah shadaqah dan wara’ dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dan ketika
sedang dalam kesempitan harta, maka tetaplah bershadaqah semampunya, kalaupun
tidak ada lagi yang bisa dishadaqahkan, maka senyum pun bisa menjadi shadaqah
bahkan setiap ucapan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir pun bisa menjadi
shadaqah. Allah berfirman :
“(Yaitu)
orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun
sempit…..(QS
Ali-Imraan (3):133).
3.
Bershadaqah dengan harta
yang halal dan baik.
Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang
baik-baik saja. Shadaqah bukanlah membuang sampah atau barang yang tidak kita
sukai. Shadaqah bukanlah legitimasi harta yang haram supaya menjadi halal.
Harta hasil korupsi tetap haram meskipun dia bershadaqah untuk fakir miskin
atau untuk pembangunan masjid dll. Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, bershodaqohlah
kalian dengan yang baik-baik (thoyyib) dari apa yang kamu hasilkan dan dari apa
yang Kami keluarkan untukmu dari bumi. Dan janganlah memilih yang busuk untuk
kamu shadaqahkan.” (QS Al-Baqarah (20 :267)
4.
Shadaqah dengan rahasia.
Memang
dibolehkan untuk bershadaqah secara terang-terangan, tetapi hanya sedikit orang
yang mampu menjaganya dari riya ketika melakukannya. Bershadaqah dengan rahasia
bisa lebih memudahkan pelakunya terhindar dari riya. Bahkan baginya jaminan
perlindungan dari Allah ketika tidak perlindungan selain perlindungan-Nya.
Rasulullah saw bersabda : “ Tujuh golongan yang mendapat naungan dimana
tiada naungan selain naungan Allah :….Seseorang yang bershadaqah dengan
sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan oleh
tangan kanannya…..(HR Bukhari Muslim)
5.
Tidak berbuat atau
berkata-kata yang menyakitkan ketika bershadaqah
Seseorang yang melakukan hal ini niscaya
shadaqahnya hanya karena riya’. Tidak mungkin seseorang yang ikhlas mampu
melakukan perbuatan atau perkataan yang menyakiti orang yang diberinya.
Keikhlasannya dalan bershadaqah akan menjaganya agar apa yang diberinya mampu
menggembirakan yang menerima, baik pemberian yang banyak ataupun pemberian yang
sedikit. Bahkan Siti Aisyah ra pernah mengatakan bahwa hendaklah kita membalas
mendoakan dengan doa yang sama yang diucapkan oleh orang yang kita beri
shadaqah, agar keberkahan dari shadaqah yang kita berikan tidak berkurang baik
bagi kita ataupun bagi si penerima. Allah berfirman :
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) shadaqahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)…” (QS
Al-Baqarah (2) :264).
Dengan menjaga hal-hal tersebut,
Insya Allah shadaqah yang kita tunaikan menjadi pintu keberkahan bagi kita.
Negeri kita yang sedang diterpa berbagai musibah di berbagai tempat, bisa
menjadi ladang keberkahan bagi negeri ketika dipenuhi dengan amal shadaqah yang
baik dan benar.
Wallohu a’lam.
Abu Fatiya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar