Rabu, 21 Desember 2011

SHODAQOH "sebuah pintu keberkahan"


SHADAQAH "SEBUAH PINTU KEBERKAHAN"

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit…..(QS Ali-Imran (3):133-134).

Dalam khazanah terminology Islam, ada beberapa sebutan yang berkaitan dengan pemberian. Yang banyak digunakan oleh umat Islam diantaranya zakat, infaq dan shadaqah. Ada model lain dari pemberian tersebut seperti wakaf, fidyah, hadiah, dan jizyah. Semua berkaitan dengan sesuatu yang dikeluarkan/diberikan dari pemilik kepada penerima. Masing-masing istilah tersebut biasanya memiliki kekhususan sendiri-sendiri. Zakat digunakan bagi pemberian yang hukumnya wajib dengan kadar dan waktu tertentu dan pemberi serta penerimanya juga tertentu, infaq digunakan pada bentuk pemberian berupa materi tertentu baik jenis ataupun jumlahnya. Sedangkan wakaf lebih umum digunakan untuk pemberian yang bersifat benda yang bisa digunakan selamanya dan seterusnya. Dari sekian banyak istilah yang ada, maka shadaqah adalah istilah yang paling universal dan fleksibel. Artinya bentuk pemberian apapun baik berupa materi atau bukan, baik jenis tertentu atau jenis lain, baik bersifat sementara atau kekal, dan siapa pun penerimanya semuanya bisa menggunakan istilah shadaqah. Tentu saja semuanya harus dilakukan atas dasar keimanan kepada Allah semata. Tidaklah dikatakan shadaqah pemberian dari orang-orang yang tidak beriman atau dari golongan non-muslim. Sebesar apapun yang mereka berikan, tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah swt.

Jadi, kalau kita memperhatikan istilah-istilah tersebut maka shadaqah adalah amal yang bisa dilakukan oleh siapa pun, kapan pun dalam bentuk apa pun. Allah menggunakan kata shadaqah untuk zakat, Rasulullah saw menggunakan kata shadaqah untuk wakaf dan untuk pemberian yang berupa non-materi dll. Namun dalam perjalanan makna bahasanya, khususnya untuk orang Indonesia, shadaqah sering dipersempit artikan dengan pemberian yang jumlahnya kecil atau bahkan sesuatu yang sudah tidak berharga.

Mengapa shadaqah memiliki makna yang sedemikian luas ? Kalau kita perhatikan, shadaqah memiliki akar kata yang sama dengan shiddiq yang artinya benar/jujur. Dengan demikian segala sesuatu yang dilakukan dengan benar, atau bentuk pemberian apapun yang dilakukan dengan benar/jujur maka bisa disebut dengan shadaqah. Kalau kaitannya dengan materi/harta maka shadaqah adalah amal berupa shidqul-maal yaitu benar dalam memperoleh dan membelanjakan harta. Dan hanya amal inilah yang bisa menyelamatkannya dihadapan pengadilan Allah SWT ketika Allah menanyakan darimana diperoleh harta itu dan kemana dibelanjakannya.

Hubungan Shodaqah dengan Keimanan

Ketika kita membaca sejarah Nabi dan para sahabatnya, maka kita bisa melihat dengan jelas bagaimana hubungan antara amal shadaqah dengan tingkat keimanan seseorang. Tidak ada satu pun diantara para sahabat yang bisa menandingi kualitas shadaqah Abu Bakar r.a. Keimanan Abu Bakar yang demikian tinggi, mampu mendorongnya untuk men-shadaqah-kan semua hartanya yang ia miliki, dimana hal ini tidak bisa dilakukan oleh Umar ra atau Utsman ra atau yang lainnya . Dalam hal ini Rasulullah tidak memandang berapa besar shadaqah yang diberikan Abu Bakar. Meskipun mungkin saja jumlah harta Abu Bakar masih lebih sedikit dibandingkan jumlah sepertiga harta Utsman. Dalam hal ini, Rasulullah menyebutkan sebuah alasan yang melatarbelakangi amal shaleh Abu Bakar tersebut yaitu bahwa kalaulah iman seluruh para sahabat ditimbang dengan iman seorang Abu Bakar ra, niscaya masih lebih berat imannya Abu Bakar.

Jadi, keimanan seorang muslim sangat menentukan kualitas shadaqah yang dia lakukan. Bukan saja dalam masalah besaran dan jumlah shadaqahnya, tetapi berupaya agar shadaqah yang dilakukannya tidak sia-sia. Berkaitan dengan tingkatan manusia dalam bershadaqah, mari kita simak sebuah hadits berikut :

Abu Kabsyah (Amru) bin Sa’ad Al-Anmary r.a telah mendengar Rasulullah saw bersabda : Tiga orang saya akan ceritakan kepadamu dan saya bersumpah kepadamu, ingatlah cerita ini.
  1. Tiada akan berkurang harta seseorang karena bershadaqah.
  2. Dan tiada seorang yang dianiaya maka ia tetap bersabar, melainkan ditambah kemuliaannya oleh Allah.
  3. Dan tiada seorang yang membuka pintu minta-minta melainkan Allah membukakan baginya pintu kemiskinan.
Kini saya akan bercerita kepadamu maka ingatlah cerita ini : Sesungguhnya dunia ini hanya untuk empat macam orang.
  1. Seorang yang diberi rizqi harta dan ilmu maka  ia pergunakan untuk bertaqwa dan menghubungi sanak keluarga dan mengenal hak Allah di dalamnya (dibayarkan zakatnya dan dipergunakan untuk kebaikan), maka orang ini dalam tingkat yang tertinggi.
  2. Seorang yang diberi ilmu tetapi tidak berharta maka dengan niat yang sungguh-sungguh ia berkata : Kalau saya diberi harta pasti saya akan beramal sebagaimana si fulan, maka ia mendapat pahala niatnya dan pahala kedua orang itu tidak berbeda.
  3. Seorang hamba yang diberi kekayaan tetapi tidak bertaqwa dan tidak dipergunakan untuk menghubungi sanak keluarga juga tidak mengenal hak Allah di dalamnya, maka orang ini ada pada sejahat-jahat tempat.
  4. Seorang yang tiada diberi harta dan tiada berilmu, lalu ia berkata:  Andaikan saya mempunyai harta niscaya saya akan berbuat sebagaimana kelakuan si fulan, maka ia berhasil dengan niatnya, nilai timbangan keduanya sama tidak berbeda.
 (HR At-Tirmidzy) (Dari Kitab Riyadhusshalihin)

Shadaqah yang Barokah

Dari uraian diatas, bisa kita katakan bahwa shadaqah adalah salah satu model pengamalan tertinggi dari keimanan seseorang. Sehingga setiap mukmin niscaya berharap bahwa Allah SWT menerima shadaqahnya tersebut. Tentu saja hal ini sangat bergantung dengan tujuan serta adab-adab dalam shadaqah. Bisa jadi pemberian seseorang yang dia katakan shadaqah tertolak di sisi Allah SWT. Maka hendaklah kita menjaga hal-hal berikut setiap kita memberikan shadaqah dalam bentuk apapun :

1.      Selalu menjaga niat ikhlas.
Inilah syarat utama keberkahan dalam shadaqah. Pada hakikatnya, seluruh harta yang ada pada manusia adalah milik Allah SWT. Manusia hanya menerima titipan belaka. Maka niat ikhlas dalam bershadaqah merupakan kesadaran dalam mengembalikan titipan tersebut kepada pemiliknya. Allah berfirman :“…Dan janganlah kamu membelanjakan (shadaqah) sesuatu melainkan karena mencari keridhoan Allah SWT …” (QS Al-Baqarah (2) : 272).
2.      Bershadaqah dalam keadaan lapang maupun sempit.
Dengan karakter shadaqah yang fleksibel dan universal, maka seorang mukmin seharusnya mampu bershadaqah dalam setiap keadaan. Ketika diberi kelapangan harta, maka perbanyaklah shadaqah dan wara’ dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dan ketika sedang dalam kesempitan harta, maka tetaplah bershadaqah semampunya, kalaupun tidak ada lagi yang bisa dishadaqahkan, maka senyum pun bisa menjadi shadaqah bahkan setiap ucapan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir pun bisa menjadi shadaqah. Allah berfirman :
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun
sempit…..(QS Ali-Imraan (3):133).
3.      Bershadaqah dengan harta yang halal dan baik.
Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Shadaqah bukanlah membuang sampah atau barang yang tidak kita sukai. Shadaqah bukanlah legitimasi harta yang haram supaya menjadi halal. Harta hasil korupsi tetap haram meskipun dia bershadaqah untuk fakir miskin atau untuk pembangunan masjid dll. Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, bershodaqohlah kalian dengan yang baik-baik (thoyyib) dari apa yang kamu hasilkan dan dari apa yang Kami keluarkan untukmu dari bumi. Dan janganlah memilih yang busuk untuk kamu shadaqahkan.” (QS Al-Baqarah (20 :267)
4.      Shadaqah dengan rahasia.
Memang dibolehkan untuk bershadaqah secara terang-terangan, tetapi hanya sedikit orang yang mampu menjaganya dari riya ketika melakukannya. Bershadaqah dengan rahasia bisa lebih memudahkan pelakunya terhindar dari riya. Bahkan baginya jaminan perlindungan dari Allah ketika tidak perlindungan selain perlindungan-Nya. Rasulullah saw bersabda : “ Tujuh golongan yang mendapat naungan dimana tiada naungan selain naungan Allah :….Seseorang yang bershadaqah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan oleh tangan kanannya…..(HR Bukhari Muslim)
5.      Tidak berbuat atau berkata-kata yang menyakitkan ketika bershadaqah
Seseorang yang melakukan hal ini niscaya shadaqahnya hanya karena riya’. Tidak mungkin seseorang yang ikhlas mampu melakukan perbuatan atau perkataan yang menyakiti orang yang diberinya. Keikhlasannya dalan bershadaqah akan menjaganya agar apa yang diberinya mampu menggembirakan yang menerima, baik pemberian yang banyak ataupun pemberian yang sedikit. Bahkan Siti Aisyah ra pernah mengatakan bahwa hendaklah kita membalas mendoakan dengan doa yang sama yang diucapkan oleh orang yang kita beri shadaqah, agar keberkahan dari shadaqah yang kita berikan tidak berkurang baik bagi kita ataupun bagi si penerima. Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) shadaqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)…” (QS Al-Baqarah (2) :264).

Dengan menjaga hal-hal tersebut, Insya Allah shadaqah yang kita tunaikan menjadi pintu keberkahan bagi kita. Negeri kita yang sedang diterpa berbagai musibah di berbagai tempat, bisa menjadi ladang keberkahan bagi negeri ketika dipenuhi dengan amal shadaqah yang baik dan benar.
Wallohu  a’lam.
Abu Fatiya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar