Selasa, 03 Januari 2012

Adab Majelis

Dalam aktivitas dakwah dan harakah dibutuhkan banyak liqa’at/pertemuan majelis-majelis. Demikian pula ketika mihwar dakwah kita sudah bergerak ke mihwar muasasi, kita tetap memerlukan diadakannya majelis-majelis pertemuan. Dan terutama memasuki era kepartaian inilah, penting bagi kita mengingat Adab Majelis dalam ajaran Islam agar kita tidak terjerumus ke dalam majelis yang tidak di berkati Allah.

Adab Majelis dalam Buku Adab Halaqah karangan Dr. Abdullah Qadiri dijabarkan sebagai berikut :

1.      Hendaknya orang-orang yang berada dalam majelis berusaha serius. Meminimalisir senda gurau yang berlebihan dan melampaui batas. Hal ini tidak dimaksudkan membuat suasana liqo dalam majelis menjadi kering, kaku, dan hambar. Suasana dalam majelis diharapkan tetap diwarnai kehangatan, kasih sayang dan keceriaan tanpa harus terjerumus ke dalam gurauan-gurauan yang berlebihan.

2.      Menjauhkan diri dari ta’assub yang telah menyebabkan orang-orang taqlid buta terjerumus ke dalamnya. Karena tidak ada manusia yang sempurna atau ma’shum (bebas dari dosa) selain Rasulullah SAW maka hendaknya kebenaran sajalah yang patut diikuti. Dan bila ada perbedaan pendapat atau pandangan hendaklah dikembalikan kepada dalil Allah dan Rasul-Nya yakni Al-Qur’an dan As-sunnah.

3.      Membersihkan majelis dari kebusukan ghibah (pergunjingan) dan namimah (menambah-nambahi) atau mencela seseorang dan jama’ah tertentu. Alangkah baiknya bila orang-orang yang berada di dalam majelis berusaha menjauhkan diri dari menodai orang lain dan sebaiknya malah melakukan introspeksi muhasabah, merenungi kelemahan diri sendiri.

4.      Pembahasan kasus-kasus yang negatif yang dapat menghambat jalannya dakwah dilakukan dalam rangka mengishlah/mengoreksi, memperbaiki dan bukan dalam rangka mempermalukan atau menjatuhkan seseorang.

5.      Menghargai dan tidak menyia-nyiakan waktu. Di dalam majelis hendaknya senantiasa ditentukan daftar skala prioritas dalam pengajuan masalah dan agenda acara yang akan dibicarakan. Kemudian obrolan-obrolan yang iseng yang tidak berfaedah dan menghabiskan waktu hendaknya dihindarkan.

Dalam QS. Al Ahzab:70  Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar”.

Dan Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam”.(HR Bukhari - Muslim)

Kemudian bila ada yang mencerca kita, hendaknya kita tidak terdorong untuk membalasnya. Sebab cercaan-cercaan tersebut justru mengungkapkan kebaikan kita.

Secara lebih rinci dan praktis, Adab dalam Majelis juga dapat diuraikan sebagai berikut:

1.      Memberi salam tatkala masuk atau meninggalkan majelis. Rasulullah SAW menyuruh kita untuk senantiasa berwajah ceria dan menyebarkan salam. Pepatah mengatakan datang tampak muka, pergi tampak punggung. Jadi tidak menyelinap datang dan pergi tanpa salam.

2.      Mengambil tempat yang masih kosong. Hendaknya tidak memaksakan diri ke depan atau berdesak-desakan. Sebaliknya, carilah tempat yang masih kosong.

3.      Tidak melangkahi bahu tamu lain untuk mengambil tempat di depan yang masih kosong dan kita justru diminta untuk mengisi tempat di depan.

4.      Berkenalan dan bercengkrama dalam majelis sebelum acara di mulai. Dalam Islam, adab mujamalah (tegur sapa dalam rangka kesantunan) sangat dianjurkan. Bila acara belum dimulai, hal itu dapat dilakukan untuk mempererat silaturahmi dan ukhuwwah.

5.      Duduk di antara dua orang harus meminta izin terlebih dulu. Bila ada dua teman kita yang sedang duduk berdekatan, hendaknya kita tidak langsung duduk di tengah-tengahnya tanpa seizin mereka berdua.

6.      Hindarkan bergurau berlebihan. Keceriaan, kehangatan dan canda tawa memang perlu dihadirkan dalam majelis namun bukan berarti harus melampaui batas.

7.      Diam dan mendengar serta menyimak lawan bicara yang sedang berbicara. Memang jauh lebih sulit untuk menjadi pendengar yang baik ketimbang pembicara yang baik. Tetapi hendaknya kita berusaha diam dan sungguh-sungguh memperhatikan lawan bicara kita.

8.      Mematuhi arahan pembawa acara. Agar majelis berjalan tertib sesuai dengan agenda acara, maka setiap peserta hendaknya mematuhi arahan pembawa acara.

9.      Berusaha hadir ke majelis sesuai dengan syarat yang ditetapkan (waktu, pakaian, dan persiapan lainnya). Hadir tepat waktu dengan pakaian yang sesuai dan persiapan memadai sangat diperlukan bila kita memasuki sebuah majelis.

10.  Menjaga pandangan dari yang haram. Baik peserta laki-laki maupun perempuan hendaknya menjaga pandangan dan kesantunan.

11.  Hormati wanita yang melintasi hadirin laki-laki. Hendaknya dihindari perbauran dan saling menggoda terutama bila peserta wanita melintasi laki-laki.

12.  Memulai majelis dengan memuji Allah serta membacakan ayat-ayat-Nya dan ditutup dengan do’a kafarat majelis.



Di dalam sebuah majelis, tentu saja setiap peserta diharapkan aktif berbicara menuangkan ide, gagasan, pendapat atau mengkritisi dan memberikan pendapat pada gagasan yang dilontarkan oleh orang lain.

Namun agar pembicaraan dalam majelis berjalan dengan baik, lancar mencapai target dan tetap dalam kerangka ibadah yang diridhai dan diberkahi Allah, perlu kiranya diperhatikan bagaimana adab berbicara dalam Islam.



Adaabul Hadits (Adab Berbicara)



Berbicara adalah hal yang sangat manusiawi atau fitrah insaniyah. Sebagai ajaran yang syamil dan mutakamil (komprehensif dan utuh), Islam juga sangat memperhatikan dengan lisan sehingga memberikan arahan yang termaktub dalam adaabul hadits (adab berbicara).

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa lisan dapat membawa atau menyebabkan seseorang masuk surga atau neraka. Dan di hadits lainnya diingatkan bahwa setiap anak cucu Adam akan diminta pertanggung jawaban atas perkataan-perkataannya, baik yang sengaja maupun tidak.



Manfaat adab dalam berbicara


1.      Bisa menikmati kondisi diam sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan kepada umatnya, karena segala perkataan Rasul adalah bernilai dzikir dalam pengertian yang luas. Bila beliau berbicara, maka bicaranya dzikir dan bila beliau diam, diamnya adalah dalam rangka berfikir.

2.      Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau (lebih baik) diam”.

3.      Bila kita biasa mematuhi adab berbicara, maka kita akan memiliki kemampuan menasehati secara baik. Karena jika terlalu mengumbar lisan, perkataan dan nasehat kita membekas atau memberi kesan mendalam terhadap orang yang kita nasehati, hendaknya kita senantiasa menjaga shalat lail, shaum sunnah, tadarrus Al-Qur’an dan shalat sunnah rawatib.

4.      Terhindar dari menjadi ulama yang su’ (ulama yang buruk). Penampilan ulama su’ ini terkesan alim, islami namun ternyata di dalamnya busuk, sesat dan menyesatkan. dalam QS. Ash-Shaff ayat 2-3, Allah mengingatkan dan mengancam orang-orang yang tidak memiliki kesesuaian antara kata dan perbuatan

Agar bisa meraih manfaat tersebut, seorang Muslim harus mematuhi adab-adab berbicara, yakni :

1.      Wadih. Bila kita berbicara hendaknya kata-kata kita wadih alias jelas, tegas, lugas dan mudah dicerna atau difahami. Hadits dari Aisyah r.a: “Adalah kata-kata Rasulullah, kata-kata yang jelas dan mudah difahami oleh orang yang mendengar di sekitarnya”. Apalagi tujuan komunikasi yang utama adalah memberikan pengertian atau kefahaman kepada orang yang diajak berkomunikasi Rasulullah SAW selalu mencontohkan bagaimana berbicara dengan wadih, sampai-sampai sahabat-sahabat bisa menghitung kata-kata yang disampaikan beliau.

2.      Sederhana dan tidak difasih-fasihkan. Hendaknya seorang Muslim berbicara dengan bahasa yang sederhana, wajar tidak dilebih-lebihkan atau sok fasih. Seyogyanyalah kita melihat siapa orang yang kita ajak bicara apakah seorang yang terdidik atau bukan. Rasulullah SAW bersabda: “Berbicalah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitas mereka”.

3.      Menghindari pengulangan pembicaan yang bisa menimbulkan kejenuhan. Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud biasa memberikan taushiyah atau nasehat setiap hari kamis, sehingga sahabat yang lain pernah berkata padanya: “Hai Abu Abdurrahman, seandainya saja engkau bisa memberi nasehat setiap hari, niscaya kami akan senang”. Namun Ibnu Mas’ud malah menjawab, kami hanya memberikan nasehat sekali-sekali saja, karena Rasulullah juga hanya sekali-sekali saja memberi nasehat. Pada saat kami berada di dalam majelis.

4.      Kata-kata yang digunakan hendaknya hanya kata-kata yang baik dan bernilai ibadah: Hindarilah kata-kata yang bersifat laghwi (sia-sia / tidak bermanfaat). Dalam hadits disebutkan oleh Rasulullah SAW: “Min husnil Islamil ma’i tarku ma laa ya’ nihi”.(HR. Tirmidzi). Termasuk di dalam kebaikan keislaman seseorang, maka ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, termasuk kata-kata laghwi. Yang termasuk kategori kata-kata baik adalah salam, tegur sapa, nasehat, kata-kata yang memberi semangat, menghibur dan menghindari kata-kata laghwi (QS 23:3) sebagai ciri-ciri orang yang beriman.



Di dalam majelis selain ada yang berbicara tentu saja harus ada yang menjadi pendengar, karena itu selain adaabul hadits dibutuhkan pula adaabul istima’.

Dalam tubuh manusia boleh dibilang telingalah organ yang paling awal berfungsi dan kelak organ ini pula yang paling terakhir berhenti berfungsi.

Sahabat Nabi SAW, Abu Darda r.a pernah mengeluarkan kata-kata bijak: “Hendaknya kita belajar dari organ-organ tubuh yang diberikan Allah kepada kita. Mengapa Ia memberi kita dua telinga dan satu mulut, itu artinya kita harus lebih banyak mendengar ketimbang berbicara”.

Dan memang ternyata jauh lebih sulit menjadi pendengar yang baik daripada pembicara yang baik. Bahkan kadang-kadang kita menemui bahwa dalam satu majelis, ada orang-orang yang berbicara pada saat yang bersamaan dan tidak mau saling mendengar satu sama lain.

Karena itu penting bagi kita belajar mendengar. Ada saat-saat berbicara, tetapi ada juga saat-saat mendengar, sehingga penting bagi kita untuk mengetahui apa-apa saja yang termasuk adab mendengar dalam perspektif Islam:

1.      Diam dan mendengarkan dengan baik dan seksama, maksudnya kita harus tahu kapan saat berbicara dan kapan saat diam dan mendengarkan. Bila sedang terjadi pembicaraan hendaknya kita berlaku santun, mendengarkan dan menyimak dengan baik dan seksama. Hendaknya kita tidak mengobrol dengan sesama pendengar lainnya.

2.      Tidak boleh memotong pembicaraan. Bila memang penting bagi kita karena ada hal yang penting yang harus diinformasikan atau dikoreksi, hendaknya kita meminta izin dengan mengacungkan jari lebih dulu dan meminta maaf, bila tidak diizinkan hendaknya kita catat untuk kita tanyakan atau sampaikan setelah pembicara menyelesaikan uraiannya.

3.      Menerima dan menghargai pembicaraan orang lain serta tidak meninggalkannya di saat selama isinya dalam rangka ketaatan pada Allah SWT, walaupun ada yang membosankan.

4.      Tidak menepiskan pembicaraan orang lain walaupun kita sudah mengetahuinya selama tidak ada yang salah dalam kata-kata tsb. Atha’bin Rabah pernah diberitahu informasi oleh seseorang sementara hal itu sebenarnya sudah diketahui oleh Atha’ sejak sebelum orang itu lahir. Namun Atha’ tetap mendengarkan dengan penuh perhatian.

5.      Tidak menunjukkan pada hadirin bahwa kita yang paling atau lebih banyak tahu. Sehingga misalnya sering berceletuk, berkomentar yang mengganggu, kecuali bila memang ditanya atau dirasakan sangat perlu.

Sepuluh Wasiat Imam Hasan Al-Banna




Imam Syahid Hasan Al-Banna merupakan seorang ulama Islam yang memiliki pengaruh besar di Abad ini. Gerakan dakwah Al-Ikhwanul Muslimin yang dipimpin beliau terbukti memberikan kontribusi besar bagi kebangkitan Umat Islam dari tidur mereka yang panjang. Sebagai qiyadah jamaah dakwah, Imam Hasan Al-Banna telah menjadikan gerakan dakwahnya sebagai sebuah organisasi yang dinamis dan aktif dalam melakukan perubahan di tengah-tengah umat di seluruh dunia. Karena fikrah ikhwaniyah yang dilontarkan Imam Syahid mudah diterima dan menjadi pegangan bagi para mujahid di seluruh medan dakwah.

Dalam mengarahkan para ikhwah untuk lebih giat berdakwah, Imam Syahid sering memberikan wejangan yang amat praktis dan mudah diamalkan. Di antaranya adalah yang dikenal sebagai 10 wasiat Hasan Al-Banna. Wejangan Imam Syahid yang sepuluh ini bersifat sederhana dan mudah dihafal. Layaknya seperti kiat-kiat aktifitas rutin harian yang setiap saat harus dihayati dan dilaksanakan oleh setiap anggota Jamaah Ikhwanul Muslimun. 10 Wasiat Imam Syahid adalah sebagai berikut ;

1.      Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.

2.      Baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an, berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedahnya

3.      Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.

4.      Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.

5.      Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.

6.      Jangan suka bergurau, karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus menerus.

7.      Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.

8.      Jauhilah ghibah (menggunjing) atau menyakiti hati  orang lain dalam bentuk apa pun dan janganlah berbicara kecuali yang baik.

9.      Berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan taawun (kerjasama).

10.   Pekerjaan rumah (PR) kita sebenarnya lebih bertumpuk daripada waktu yang tersedia, maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan.



Bagi para aktivis dakwah sepuluh wasiat bagaikan resep yang sangat manjur untuk mengobati penyakit yang terdapat dalam hati mereka.  Hal ini telah teruji sepanjang perjalanan dakwah Ikhwan sejak dikumandangkan oleh Imam Syahid sampai ke masa kita sekarang ini.  Wasiat Imam Syahid merupakan rangkuman pemahaman beliau terhadap kandungan Al-Qur-an dan Sunnah yang semestinya mendapat prioritas utama dalam pengamalannya…. Berikut ini penjelasan lebih lanjut  dari perintah harian Imam Syahid Hasan Al-Banna.



Wasiat Pertama: Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.

Wasiat ini mengandung perintah agar setiap Al-akh mendahulukan sholat lima waktu dari perkara lainnya. Karena sholat di awal waktu merupakan amal Islam yang paling utama sebagaimana dikemukakan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam ketika ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah amal yang paling utama ya  Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya”. Wasiat ini juga mengharuskan jamaah ikhwan untuk selalu menanti waktu-waktu sholat. Akan lebih utama bila seorang akh itu selalu dalam keadaan berwudlu beberapa saat sebelum adzan berkumandang sehingga dia dengan segera dapat mendatangi masjid dan sholat berjamaah. Al-Akh tidak boleh memprioritaskan hal lain selain dari waktu sholat ini.



Wasiat Kedua: Baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedahnya.

Setiap akh diwajibkan untuk selalu berinteraksi dengan Kitabullah Al-Qur-an. Mereka wajib membacanya di mana ada kesempatan. Di setiap pertemuan yang diselenggarakan ikhwah hendaknya dimulai dengan membaca Al-Qur-an. Selain itu ikhwah juga diminta untuk menelaah atau mentadabburkan isi Kitabullah sesering mungkin. Ini bisa dilakukan dengan membaca Kitab-kitab tafsir atau buku-buku Manhaj Islam yang menguraikan nilai-nilai Al-Qur-an. Bukankah Nabi mengatakan bahwa sebaik-baik  ummat beliau adalah yang memperlajari dan mengajarkan Al-Qur-an. Imam Syahid juga mengingatkan agar waktu dimanfaatkan untuk berdzikir dalam segala keadaan. Surat-surat tertentu dan ayat-ayat pilihan biasa dapat dibaca dalam berbagai keadaan. Disamping itu ada bacaan-bacaan dzikir seperti tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan hauqallah yang sangat penting dilakukan dalam setiap keadaan ikhwah… Misalnya ketika berkendaraan, menunggu sesuatu, atau tengah diam… Ikhwah hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu bagi hal-hal yang tidak bermanfaat karena di antara ciri orang-orang mukmin adalah “Alladzina hum anillaghwi mu’ridhuun” (Orang-orang yang menghindarkan diri dari perkataan atau perbuatan yang tidak ada manfaatnya.



Wasiat Ketiga: Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih

Setiap akh diwajibkan belajar Bahasa Arab fushah (baku) dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Beliau mewajibkan hal ini karena Bahasa Arab merupakan salah satu syiar dakwah Islam. Bahasa Arab itu bahasa Al-Qur-an dan bahasa Ahlul Jannah (Ahli Syurga). Di antara sumber kekuatan ummat Islam adalah persatuan mereka yang bersifat mendunia. Kunci persatuan adalah kemampuan berkomunikasi cepat, dengan bahasa yang merupakan warisan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya. Sementara itu orang-orang di luar Islam  berusaha sekuat tenaga menjauhkan Ummat Islam dari bahasa induk mereka. Mereka mempopulerkan bahasa Inggris dan menyatakan bahwa bahasa Arab itu terbelakang. Mereka bahkan ingin ummat Islam tak lagi mampu membaca Al-Quranul Karim atau memahami kandungan maknanya ketika membaca Al-Qur-an tersebut.



Wasiat Keempat: Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.



Imam Syahid mengingatkan para ikhwah untuk menjauhi perdebatan dan berdiskusi tentang hal-hal yang tak perlu. Ikhwah dianjurkan banyak bicara tetapi tentang hal-hal yang penting atau mendesak untuk dibicarakan… Perdebatan selamanya hanya melukai orang yang didebat karena setiap orang selalu berusaha mempertahankan pendapatnya kendati salah. Al-Qur-an sendiri mengingatkan kita dari bicara serampangan karena syaitan itu memecah belah manusia dari perkataan yang buruk. (S. Al-Isra: 53)



Wasiat Kelima: Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.



Imam Syahid melarang para ikhwah banyak tertawa untuk memelihara dan menjaga kesucian hati mereka agar selalu berdzikir kepada Allah... Banyak tertawa bisa timbul karena ada yang membanyol, atau menceritakan sesuatu yang membuat orang-orang tertawa terbahak-bahak. Biasanya tidak jauh dari mengejek dan menghina orang lain baik secara langsung atau tidak. Karena itulah Al-Imam mengingatkan bahaya orang-orang yang banyak tertawa dan sedikit menangis.



Wasiat Keenam: Jangan suka bergurau, karena ummat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus menerus.



Imam Syahid Hasan Al-Banna juga melarang para ikhwah banyak bercanda atau membanyol yang membuat orang lain tertawa baik dengan ucapan, cerita, atau tingkah laku yang lucu. Beliau menyatakan bahwa sikap pejuang Islam adalah bersungguh-sungguh atau serius sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur-an S. Al-Ankabuut ayat 69



Wasiat Ketujuh: Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.

           

Imam Syahid Hasan Al-Banna mengingatkan para ikhwah agar memperhatikan adab berbicara di antaranya dengan merendahkan suara dari segi volume dan merendahkan hati dari segi isi pembicaraan. Islam memerintahkan ummatnya untuk memiliki kelembutan hati dan hal itu dimulai dari kelembutan dalam berbicara atau berdialog.



Wasiat Kedelapan: Jauhilah ghibah (menggunjing) atau menyakiti hati  orang lain dalam bentuk apa pun dan janganlah berbicara kecuali yang baik.



Dalam wasiat ini Imam Syahid mengingatkan agar para ikhwah tidak menggunjingkan orang lain. Bergunjing adalah membicarakan sesuatu tentang orang lain yang tidak disukai orang tersebut bila dia mendengar pernyataan itu. Bergunjing adalah larangan keras dalam berbicara. Oleh Al-Qur-an orang yang suka menggunjing disamakan dengan orang yang memakan daging saudaranya sendiri. ( S. Al-Hujaraat 12.)



Wasiat Kesembilan; Berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan taawun (kerjasama).



Imam Syahid menekankan bahwa prinsip dakwah Islam sejati adalah saling berkenalan. Pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Allah telah menciptakan manusia berjenis-jenis suku bangsa dan bahasanya, beraneka ragam latarbelakang hidupnya agar mereka saling kenal mengenal (Al Hujarat: 13). Untuk meraih hati orang lain pada langkah pertama adalah dengan memperkenalkan diri dan mengenal orang lain. Dengan perkenalan itu maka jembatan antara hati kita dengan hatinya sudah tersambung… Setelah itu potensi untuk saling tolong menolong dan bekerjasama akan terbuka.



Wasiat Kesepuluh : Pekerjaan rumah (PR) kita sebenarnya lebih bertumpuk daripada waktu yang tersedia, maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan.



Imam Syahid mengingatkan bahwa tugas para ikhwah yaitu agenda dakwah sangat banyak. Bahkan lebih banyak dari waktu yang tersedia. Umur dakwah ini lebih panjang dari umur para juru  dakwah itu sendiri. Mereka tidak boleh menunda-nunda pekerjaan yang sudah ada di depan mata, disebabkan pekerjaan lain akan segera menyusul… Karenanya ikhwah harus bekerja sama  untuk saling memudahkan pekerjaan mereka, sebagaimana sering dikemukakan Rasulullah saw., “Permudahlah dan jangan dipersulit”.  Dalam gerakan dakwah kita harus saling melayani dan membantu mempermudah urusan saudara kita sehingga pekerjaan dakwah akan menjadi ringan dan menyenangkan.

Wallahu a’lam


Jumat, 30 Desember 2011


URGENSI MUHASSABAH

 “ Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan catatan amal perbuatan itu, Padahal mereka telah lupakannya. dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. QS. Al-Mujadilah [58]:6.


Apa itu Muhasabah ?

Menurut bahasa, muhasabah berasal dari bentuk kata kerja; haasaba yuhaasibu di ambil dari haasiba, hasibtusy-syaia, ahsibuhu husbaanan, dan hisaaban, artinya apabila engkau menghitungnya; hisab dan muhasabah artinya bila engkau menghitung sesuatu.


Menurut bahasa arti muhasabah sama dengan intropeksi, yaitu hadirnya sebuah kesadaran untuk melihat keadaan diri. Istilah yang lain adalah menghitung-hitung keburukan aib diri sendiri, merenunginya, dan terus mencoba melakukan perubahan sikap dan prilaku kearah yang lebih baik.


Umar Ibn Khatthab ra :“Hisablah dirimu sebelum kamu di hisab dan timbanglah amalmu sebelum kamu di timbang, karena sesungguhnya kamu melakukan hisab terhadap dirimu sendiri pada hari ini (dunia), akan lebih memudahkan bagi kamu saat menjalani hisab hari esok (akhirat)”. 
 

Imam Hasan Basyri : “Tidak ada satu haripun dimana sang pajar masih terbit menyingsing kecuali ia berkata; “Wahai anak Adam (manusia), aku adalah makhluk baru dan atas semua amalanmu menjadi saksi. Maka jadikanlah aku sebagai bekal. Sebab jika aku berlalu, aku tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat”.


Imam Ja’far Bin Muhammad as-Shidiq :“Siapapun yang akhir dari dua hari yang di lewatinya buruk, maka ia adalah orang yang terkutuk. Siapapun yang tak melihat adanya pertambahan kebaikan dalam dirinya, maka ia adalah orang yang berkekurangan. Dan siapapun yang dirinya berkekurangan, maka kematian lebih baik dari pada kehidupan.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. AL Hasyr [59] : 18.


1.     Muhassabah ( introfeksi diri )

Sebagaimana pesan Sahabat Nabi Amirul Mukminin Umar bin Khottob :

" حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا "

" Evaluasilah (Hisablah) dirimu sebelum kalian dihisab dihadapan Allah kelak"

     2.     Muroqobah ( selalu merasa di awasi Allah )


”الإحسان هو أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك"

artinya :“Ihsan adalah engkau senantiasa beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, kalau pun engkau belum bisa melihat-Nya, ketahuilah sesungguhnya Allah melihat kepadamu”.

3.     Mu’ahadah ( selalu mengingat perjanjian dengan Allah )

Setiap saat, setiap shalat kita seringkali bersumpah kepada Allah : إيّاك نعبد و إيّاك نستعين

“Hanya kepada-Mu-lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolong.

Kemudian kita berjanji ;  إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

“Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Rabb semesta alam”.

172. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi"…. QS. Al ‘Araf [7] ; 172.
 
    4.     Mu’aqobah ( member sangsi ketika lalai beribadah )

Meng ‘iqob diri jika lalai dalam melakukan ibadah dengan infaq dan hal-hal yang mendidik.

      5.     Mujahadah ( adanya kesungguhan dalan ibadah ).


69. dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada

mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. QS. Al-Zalzalah [99]: 6-8.
 
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). QS. Al-Baqarah [2];281

Wallahu’alam bishowaf.

Rabu, 28 Desember 2011


10 Nasehat Untuk Wanita


Nasehat adalah sebuah kejernihan yang sewajarnya hadir dalam kehidupan masyarakat Islam. Terkhusus bagi wanita muslimah yang hidup dijaman ini. Sapaan nasehat adalah penyejuk yang menyegarkan langkah dalam menuju ridha Yang Maha rahmah, Allah tabaraka ta'ala.

  1. Wanita muslimah meyakini bahwa Allah adalah Tuhannya, Muhammad adalah nabinya dan Islam adalah agamanya, dan menampakkan jejak keimanan dalam perkataan, amalan dan keyakinan. Maka ia selalu menjauhi murka Allah, takut akan pedihnya azab Allah dan balasan akibat menyelisihi perintah-Nya.
  2. Wanita muslimah selalu menjaga sholat-sholat wajibnya, berwudlu, menjaga kekhusyukan dan ketepatan waktu melaksanakan sholat. Janganlah menyibukkan diri dengan aktivitas yang lain ketika datang waktu sholat. Meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat yang memalingkan dari ibadah kepada Allah. Ia pun menampakkan atsar (bekas) sholatnya dalam peri kehidupan , karena sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, sholat adalah penjaga terbesar dari kemaksiatan.
  3. Wanita muslimah selalu menjaga hijabnya (mengenakan jilbab) merasa mulia dengan hal tersebut dan dia tidak keluar dari rumah kecuali dalam kondisi berjilbab, dengan jilbab tersebut bertujuan agar Allah menjaganya. Ia pun bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan, menjaga dan mengehendaki terjaganya kesuciannya dengan jilbab.

" Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu anak-anakmu dan wanita beriman agar mereka mengenakan jilbab-jilbab mereka."
(al ahzaab: 59)

  1. Wanita muslimah selalu mentaati suaminya, bersikap lembut, cinta, mengajaknya kepada kebaikan, menasehati dan menghibur suaminya. Ia tidak mengeraskan suara dan kasar dalam berbicara kepada suaminya. Rasulullah bersabda,

'apabila seorang wanita menjaga shalat lima waktunya, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya niscaya ia akan masuk surga. (Hadis Shahih jami')

  1. Wanita muslimah senantiasa mendidik putranya untuk taat kepada Allah, mengajarinya dengan aqidah yang benar, menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi maksiat dan akhlaq yang buruk, firman Allah,

'wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka'. (At tahrim: 6)

  1. Wanita muslimah tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Sabda Rasulullah,

'barangsiapa wanita yang berdua-duaan dengan laki-laki, maka setan yang ke-3 nya'.

Dan wanita muslimah tidak bepergian jauh kecuali untuk keperluan yang tidak bisa ditinggalkan dan disertai mahram dengan berjilbab.

  1. Wanita muslimah tidak berpenampilan atau berdandan seperti kaum laki-laki. Sabda Rasulullah,

'Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.' (Hadis shahih)

Wanita muslimah juga tidak meniru orang-orang kafir dalam kekhususan dan kebiasaan mereka,

"barang siapa yang bertasyabuh (menyerupai) suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut" (hadis shahih)

  1. Wanita muslimah adalah da'iyah (orang yang berdakwah) dibarisan kaum wanita dengan menggunakan perkataan yang baik melalui jalan menziarahi tetangganya , menyambung persaudaraan, melalui telpon, memberikan buku-buku dan kaset-kaset Islam. Ia pun beramal dengan apa yang ia ucapkan dan bersemangat dalam menghindarkan diri dari adzab Allah,

'kalau Allah menghidayahi seseorang melalui perantara kamu maka hal tersebut lebih baik bagimu dari pada binatang ternak yang merah (harta dunia yang banyak). (HR. bukhari dan muslim).

  1. Wanita muslimah menjaga hatinya dari kerancuan dan hawa nafsu , menjaga pandangannya dari pandangan-pandangan yang haram, menjaga telinganya dari hal-hal yang melalaikan dari dzikrullah, ini semua yang dinamakan dengan taqwa,

'malulah terhadap Allah dengan sebenar-benarnya, barang siapa yang malu dengan sebenar-benarnya maka jagalah kepalanya dan apa yang ada didalamnya, dan jagalah perutnya serta yang ada didalamnya, ingatlah kematian dan musibah, barang siapa yang menghendaki akhirat hendaknya ia meninggalkan (tidak cinta) perhiasan-perhiasan dunia, barang siapa berbuat demikian niscaya sikap malunya kepada Allah benar. (Hadis Shahih Jami')

  1. Wanita muslimah tidak menyia-nyiakan waktu siang maupun malamnya untuk perbuatan yang tidak ada gunanya, atau melewatkan masa mudanya hilang dengan percuma,

'tinggalkanlah mereka yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan kesia-siaan'. (Al An'am: 70)

Allah berfirman tentang orang yang menyia-nyiakan umurnya ,

'alangkah meruginya diri kami dari apa yang telah kami tinggakkan' .
(Al An'am: 31)

Wahai muslimah laksanakanlah nasehat-nasehat ini niscaya engkau akan jaya di dunia dan di akhirat.

Waktu hidup sangatlah terbatas dan berharga. Namun pada kenyataan, kita sering melewatkan waktu yang sempit tadi, berlalu begitu saja tanpa makna. Ada yang mengibaratkan waktu sebagai sebilah pedang. kalau kita tidak gunakan untuk menebas maka kita lah yang akan ditebasnya. Hari-hari berlalu begitu cepatnya, detik, menit, jam hari, minggu, bulan dan seterusnya berlalu dengan cepatnya. Ia selalu bergerak dan tak mempedulikan orang yang ada di atasnya. Bila manusia tak peduli juga dan tidak turut bergerak niscaya ia akan tertinggal.

Apabila manusia turut bergerak menyertai waktu, maka mesti ia perhatikan apa aktivitas yang ia lakukan dalam mengikuti pergerakan waktu. Apakah aktivitas kebaikan ataukah sebaliknya. Kalau aktivitas jelek yang ia lakukan niscaya ia akan merugi dan bila kebaikan niscaya keuntunganlah yang akan ia raih. Kita pun mesti ingat bahwa setiap aktivitas tadi baik berupa perbuatan maupun perkataan ada yang mengawasi dan mencatat. Firman Allah

' apa-apa yang kamu ucapkan dari perkataan maka disisinya ada malaikat yang dekat dan selalu menyertai'.(Qof:18)

Kenyataan seperti ini tentu akan menggugah diri seorang insan beriman untuk melihat dan mengetahui amala kebaikan yang semestinya ia lakukan dalam bergerak bersama waktu